Posts

Showing posts from April, 2026

Untuk Seseorang : Jarak Aman

Ada beban yang menyesakkan dadaku, sebuah kegelisahan yang begitu menghambat hingga aku merasa perlu membuangnya lewat helaian napas yang panjang. Seumpama sebuah balon yang selama ini kugenggam erat, kini kubiarkan ia terlepas dan membubung tinggi meninggalkan jemariku. Bersamanya, melayang pula segala rahasia yang terlalu berat untuk kusimpan sendiri, terbang menuju luasnya langit biru, membiarkan angin membawanya ke entah berantah agar aku tak perlu lagi memikul rahasia itu sendirian. ​Perasaan suka yang kurasakan ini sungguh menyerupai ekor kucing yang penuh muslihat, ia bergerak dengan lincah, menggoda, lalu menghilang begitu saja ke dalam kesunyian tanpa meninggalkan jejak. Ia melarikan diri dengan sangat lembut, membuatku kehilangan arah untuk mengejarnya. Sosokmu bagiku adalah matahari yang cahayanya terlalu benderang untuk kutatap secara langsung, hingga mataku terasa pedih oleh silaunya kehadiranmu yang begitu mempesona namun tak terjangkau. ​Karena rasa gentar akan keindahan...

Untuk Seseorang : Gradasi Pantai

Cakrawala di ujung teluk itu kini menampilkan gradasi yang tidak biasa, sebuah rona yang jauh lebih pekat dan mistis dibandingkan birunya samudra yang sering kusaksikan. Aku sering merenung dalam diam, mencoba memahami alasan di balik daya tarik pesisir ini bagi mereka yang sedang dilanda asmara, seolah-olah irama deburan ombak yang menghantam karang adalah satu-satunya perantara yang mampu membisikkan kata-kata kasih secara sempurna. Ada kekuatan magis di dalam pergantian warna air itu yang seakan memanggil rahasia-rahasia terpendam untuk segera muncul ke permukaan. ​Untuk menghindari gejolak rasa yang mendesak, aku memacu kendaraan roda duaku menembus angin, menyusuri rute yang jauh dari keramaian. Sengaja kupilih jalur alternatif yang mendaki perbukitan dan melintasi pesisir yang ramai, hanya agar aku tidak perlu berpapasan dengan bayanganmu yang mungkin sedang menikmati suasana di jalur utama. Aku berusaha melarikan diri dari sebuah realitas yang mulai mengganggu ketenangan batinku...

Untuk Seseorang : Cahaya

Di tengah hamparan semesta yang dipenuhi bilyaran titik cahaya, pandanganku telah terkunci secara mutlak pada satu poros utama. Dari sekian banyak gemintang yang menghiasi kanvas malam, hanya ada satu titik yang bagiku paling esensial, sebuah titik fokus yang tak akan pernah tergantikan oleh megahnya galaksi mana pun. Meski roda waktu terus berputar dan musim-musim berganti rupa, keteguhan hatiku terhadap satu cahaya ini tidak akan pernah goyah, karena bagiku, hakikat dari kasih sejati adalah tentang kehadiran yang menetap dan kesetiaan yang tak lekang oleh pergeseran rasi bintang. ​Kesadaran ini lahir setelah aku melewati lorong-lorong sepi yang panjang, menyadari bahwa ada sebuah doa abadi yang terpancar melalui cahaya yang melintasi jutaan tahun perjalanan waktu. Baik saat langit menampilkan kejernihannya maupun saat awan mendung menumpahkan kesedihan melalui rintik hujan, aku merasakan adanya perlindungan tak kasatmata yang menjagaku dari kejauhan. Dalam keheningan kamar yang gela...

Untuk Seseorang : Stasiun Bekasi

​Bayangan sosokmu yang berdiri tegak di area bundaran dekat stasiun sudah terpeta jelas dalam benakku. Di titik pertemuan yang sudah menjadi saksi bisu rutinitas kita, engkau pasti sedang berdiri di sana dengan kegelisahan yang tertangkap dari gerakan jemarimu yang berulang kali memeriksa jam tangan. Di tengah arus manusia yang hilir mudik tak karuan, aku tahu kamu sedang berupaya mencari kepastian dan jawaban atas sebuah teka-teki perasaan yang belum sempat terselesaikan. ​Barisan pesan berisi pernyataan kasih yang kamu sampaikan kini terasa membakar genggamanku, menuntut sebuah jawaban yang jujur. Kata-katamu yang meminta kejelasan tentang bagaimana perasaanku sebenarnya, memicu sebuah ledakan energi yang tak terbendung di dalam dada. Aku merasa tidak bisa lagi sekadar diam dan berpangku tangan, ada sebuah ketergesaan yang mendesakku untuk segera mengakhiri ketidakpastian ini dan menyatakan segalanya tanpa ada yang ditutupi. ​Melihat angkutan umum yang terjebak dalam keriuhan kemacet...

Untuk Seseorang : Tepat Sasaran

Pertemuan itu terjadi tanpa peringatan, sebuah momen yang menghantam kesadaranku layaknya kilatan petir di siang bolong. Saat sosokmu diperkenalkan, seluruh kriteria wanita idaman yang selama ini hanya ada dalam imajinasi seolah ditarik paksa menjadi nyata di depan mata. Semuanya berlangsung begitu cepat, hanya dengan satu tatapan yang saling bertaut, detak jantungku mendadak berpacu tidak beraturan, memicu jeritan bisu di dalam batin yang mengakui bahwa aku telah jatuh hati sepenuhnya. ​Aku merasa seolah baru saja memenangkan sebuah pertaruhan besar dalam hidup ketika melihatmu kembali. Kesabaran untuk tidak berpaling dan keteguhan hati dalam menanti akhirnya membuahkan hasil yang manis. Aku menyadari bahwa keberuntungan ini bukanlah sekadar kebetulan, melainkan keberpihakan semesta yang membiarkan takdir bekerja secara ajaib, seolah memberikan restu bagi perasaan yang selama ini kupendam sendiri. ​Kegembiraan yang meluap membuatku ingin melompat tinggi dan melangitkan syukur atas ske...

Untuk Seseorang : Bangku Taman

Kehadiranmu yang tiba-tiba menghilang dari pandangan menyisakan ruang hampa yang dipenuhi rasa khawatir. Aku sering melamun berjam-jam, memanggil kembali memori tentang senyumanmu yang begitu tulus dan jauh lebih cerah dibandingkan siapapun yang pernah kutemui. Kabar tentang kepindahanmu ke kota yang sangat jauh terasa menyesakkan, terutama karena aku kehilangan kesempatan untuk sekadar mengucapkan kata perpisahan di saat-saat terakhir pertemuan kita. ​Bayangan dirimu yang memacu sepeda motor menembus embusan angin kini menjadi gambaran yang terus berputar di kepalaku. Aku sering bertanya-tanya dalam hati, ke mana sebenarnya tujuan perjalananmu dan apakah langit di kota tempatmu tinggal sekarang secerah senyum yang dulu selalu kau bagikan. Meski jarak membentang luas, perasaan rindu ini tetap terjaga dengan utuh, memastikan bahwa sosokmu tidak akan pernah luntur dari ingatanku. ​Aku masih ingat betul momen-momen sederhana namun berharga di taman yang sepi itu. Kita sering menghabiska...

Lenathea : Reinkarnasi

Sesal sepuluh tahun laksana sembilu Mengurung jiwaku di ceruk nadir yang sunyi Kupikir hadirmu akan membawa belu Menghakimi khilafku dengan lisan yang keji ​Namun kamu datang tanpa inkuisisi Bukan dendam yang disimpan di balik relung Tanpa ranum rayuan atau tagihan deklarasi Didekap lukaku yang dulu kian tergulung ​Kini cinta meluap untuk kedua kalinya Pada atma yang sama, pada aksara yang identik Merajut rahasia dalam pusaran alurnya Menghidupkan asa di setiap derap detik ​Jakarta kembali menjadi saksi yang tuli Tentang romansa yang bersemi di sela beton Tiada lagi ragu yang membuatku merana Kita menari di atas aspal yang monoton ​Rutinitas yang dicap terasa hambar Tak berubah, itulah madu yang selalu kita tagih Meski raga lelas dan langkah kian lebar Bertemu denganmu adalah obat paling fasih ​Apapun yang terjadi di cakrawala depan Konvergensi kita adalah sebuah fardu Tak peduli badai atau mentari yang garang Cinta nirmala takkan mengenal sendu ​Sedetik pun jemu tak pernah bertamu Seb...

Lenathea : Retrospeksi di Titik Nadir

Aku tersungkur di labirin kelabu Meratapi puing pilihan yang kandas Segala yang kupuja musnah secara tandas Meninggalkan jejak sesal yang membatu ​Menjadi hantu bagi langkahku sendiri Dunia menyempit, mencekik ruang napas Semua kemegahan yang kubangun dengan lepas Runtuh seketika dalam sunyi yang nyeri ​Pertumbuhanku laksana kilat yang menderu Begitu lekas menggapai puncak angkasa Namun sekejap pula aku kehilangan asa Jatuh terjerembap di tanah yang biru ​Di tengah malam yang dingin dan hampa Sebuah cahaya berkedip membawa tanda Sebuah tanya tentang kabar di balik dada Dari jemarimu yang lama tak menyapa ​Bulan-bulan berlalu tanpa satu suara Engkau hadir saat duniaku sedang karam Apakah firasatmu menangkap duka yang suram Atau hatimu sendiri yang sedang sengsara? ​Misteri itu tersimpan di balik cakrawala Mengapa datang di titikku yang paling rendah Saat jiwaku remuk dan nampak begitu lelah Membasuh luka dengan kata yang nyala ​Tiada amarah yang kau kirim dalam diksi Hanya rindu yang tu...

Lenathea : Ambivalensi

​Di bawah temaram Jakarta yang lelap Jarak bukan lagi dinding yang angkuh Rahasia kita tak lagi berbisik senyap Melebur dalam tawa yang kian tangguh ​Malam itu saksi rasa yang berbalas Engkau bintang di langit yang ketujuh Ketulusan tak lagi sekadar nirmalas Namun pilihan sadar yang kian utuh ​Mencintaimu bagai mimpi yang menjelma Menyentuh cakrawala dengan jemari fana Kita merajut diksi dalam satu skema Di tengah kota yang penuh fatamorgana ​Namun waktu membawa sauh yang berkarat Logika menuntut masa depan yang pasti Aku terhimpit usia yang kian berat Mengejar kepastian, membunuh empati ​Kutinggalkan engkau demi sebuah kemungkinan Memilih jalan yang terlihat lebih terang Kupatahkan sayap di tengah penerbangan Membiarkan hatimu karam dan terlarang ​Melalui layar, tangismu terasa menyayat Pesan singkatmu adalah luka yang menganga Panggilan tak terjawab menjadi ayat Tentang pengkhianatan yang tak lagi berbunga ​Aku melangkah ke arah yang kupikir tepat Namun nasib memutar balikkan kenyata...

Lenathea : Prahara yang Beku

‎Di labirin ingatan yang kian mengeram ‎Bayangmu hadir bak renjana yang tenteram ‎Engkau adiwarna di balik tirai astral ‎Menyentuhmu seolah memeluk angin meridian ‎​Dahulu asmara hanyalah fatamorgana nirmala ‎Kukejar dalam mimpi yang paling dala ‎Engkau mustahil, laksana puncak Mahameru ‎Terbungkus kabut dingin yang membiru pekat Bagai bongkah es di samudra atlantis ‎Beku hatiku menatap garis takdir yang tragis ‎Namun kapak besi itu datang menghantam pedas ‎Memecah kesangsian hingga berkeping tandas ‎​Ketidakmungkinan itu lebur dalam atmoster ‎Oleh ramahmu yang hangat bak sinar ester ‎Kehangatanmu melampaui batas imajinasi ‎Mengubur segala sekat dan diksi frustrasi ‎​Hari demi hari bergulir dalam linimasa ‎Dirimu mulai memahat bentuk rupa dan asa ‎Hingga di satu senja yang berbau petrichor ‎Kau sebut namaku tanpa nada yang tak lagi minor ‎​Di pelataran gedung yang menjulang angkuh ‎Langkahku terhenti, jiwaku tak lagi lumpuh Kau tegur diriku dengan sapa yang ranum ‎Menghapus sunyi yang ...

Apel : Obsesi

‎Kini, gemuruh badai di dalam dada mulai meluruh menjadi sisa-sisa getaran yang menghantui, meninggalkan keheningan yang lebih tajam daripada sembilu di tengah ruangan yang masih menyimpan uap panas dari pengabdian yang baru saja usai. Di atas lantai yang dingin ini, setiap helai napas yang mulai teratur kembali terasa seperti pengkhianatan terhadap momen kegilaan yang baru saja meruntuhkan seluruh tembok pertahanan ego, menyisakan sebuah kesadaran pahit bahwa cahaya yang masuk ke dalam kegelapan ini tidak akan pernah bisa benar-benar dimiliki tanpa menghancurkannya. ‎ ‎​Jemari yang tadinya mencengkeram dengan otoritas tiran kini gemetar saat menyentuh bilur-bilur kemerahan di atas kulit porselen yang tampak seperti untaian mawar yang mekar di tengah padang salju yang tak berdosa. Ada rasa ngeri yang manis yang merayap di bawah permukaan kulit, sebuah realisasi bahwa ikatan ini telah melampaui sekadar kontrak di atas kertas dan berubah menjadi belenggu tak kasat mata yang mengikat dua ...

Apel : Dominasi

Ruangan ini menjelma menjadi rahim kegelapan yang pekat di mana udara di dalamnya telah memadat menjadi substansi berat yang berdenyut-denyut, seolah-olah setiap meter dinding ini ikut bernapas dalam antisipasi yang mencekam dan haus akan penyerahan diri. Cahaya bulan yang mengintip malu-malu dari celah jendela sempit tampak pucat dan menggigil ketakutan, seolah enggan menjadi saksi bisu bagi upacara penaklukan di mana otoritas mutlak ditegakkan tanpa suara namun dengan kekuatan yang mampu merobek jiwa. Di dalam semesta kecil ini, keheningan bukanlah sebuah kekosongan yang hampa, melainkan sebuah jerat tak kasat mata yang mencekik segala bentuk pembangkangan sebelum ia sempat terucap di ujung lidah yang kelu. Sepasang tangan yang lebar, keras, dan berurat kini bertindak sebagai hukum tertinggi yang tak dapat diganggu gugat, mencengkeram rahang dengan kekuatan predator yang siap meremukkan segala bentuk keraguan hingga ke akar-akarnya. Jari-jari yang kasar dan kapalan itu menekan kulit ...

Apel : Inisiasi

Lantai kaca di gedung kantor ini bukan sekadar alas, melainkan cermin angkuh yang memantulkan langit yang abu-abu, sebuah cakrawala yang tampak seperti kanvas bagi jiwa yang telah lama membeku dalam kristal absurd yang kaku dan tak tersentuh. Di sini, kesunyian adalah Tuhan yang menuntut pengabdian mutlak, tidak memberi ruang sedikit pun bagi kekacauan untuk bernafas, sementara detak jam dinding bertindak sebagai penghukum yang menghitung setiap detik keberhasilan yang terasa sepahit empedu di atas lidah yang haus akan makna. Tiba-tiba, daun pintu yang berat itu menyerah pada kecerobohan yang tidak terduga, membiarkan angin membawa serta aroma apel segar yang menggoda, sebuah wangi yang seolah memiliki jemari kecil untuk mencabik-cabik aura otoritas yang selama ini dibangun dengan tembok besi yang angker. Sosok itu jatuh tersungkur di atas permadani, sebuah pemandangan yang menghina gravitasi sekaligus mencumbu lantai dengan cara yang paling memalukan, menghancurkan simfoni keangkuhan ...

Sembilan Belas : Itu Dia

Aku harap aku tidak memulai Agar kamu tidak salah menerka Sebab aku tidak pandai berpura-pura Sandiwara adalah neraka Memang, aku tidak setinggi itu Aku anggap rendah karena nyata Bukan karena apa-apa Akupun tak tahu kenapa Mungkin aku merasa sepi Dan menemukan telinga yang mendengar Begitu juga dirimu, menepi Dipinggir jalan, di tempatku terdampar Bangun, ini sudah pagi Aku lelah menimbang skenario Mata terpejam lama Namun otak enggan beristirahat Jadi sudah, pergi dari kepala ini Kamu indah, cuman sangat mengganggu Aku tidak suka bunga, apapun itu Tetapi aku menyukaimu

Sembilan Belas : Pendusta

Saat ini, apakah aku? Yang menjadi detik saat sepimu Ataukah aku? Yang benar-benar inginmu Sebab tidak ada ruang saat itu Saat bangku masih berupa kayu Dalam hitam yang sayu Juga sosok yang pemalu Aku tidak pernah marah lagi Pun saat aku tidak dihargai Tanyakan pada semuanya Apakah benar itu adanya Titik kita sama, tiada suka Lain, menjadi seorang pembenci dusta Tiada yang lebih indah Dari hati yang terbuka

Sembilan Belas : Terduga

Dalam sunyi tergambar garis Di atas lembar yang telah lama kutulis Ternyata ada diam yang tidak bisa dibaca Menjadi rasa yang tak pernah ada Apa yang membesar padamu? Tak nampak di kelopak mataku Kemarin aku menatap tajam matamu Namun sekarang turun ke bawah bibirmu Aku takut, aku gelisah Saat turun lebih jauh ke dalam hatimu Seperti nya aku tidak mampu Pikiran ini menjadi belenggu Tidak dengan malam yang redup Ketika kios dijalan sudah tutup Masih juga searah Namun jauh melangkah Aku takut, aku gelisah Tentang apa yang dikabarkan waktu Ritme nya begitu cepat Terasa melawan hukum alam