Untuk Seseorang : Stasiun Bekasi

​Bayangan sosokmu yang berdiri tegak di area bundaran dekat stasiun sudah terpeta jelas dalam benakku. Di titik pertemuan yang sudah menjadi saksi bisu rutinitas kita, engkau pasti sedang berdiri di sana dengan kegelisahan yang tertangkap dari gerakan jemarimu yang berulang kali memeriksa jam tangan. Di tengah arus manusia yang hilir mudik tak karuan, aku tahu kamu sedang berupaya mencari kepastian dan jawaban atas sebuah teka-teki perasaan yang belum sempat terselesaikan.

​Barisan pesan berisi pernyataan kasih yang kamu sampaikan kini terasa membakar genggamanku, menuntut sebuah jawaban yang jujur. Kata-katamu yang meminta kejelasan tentang bagaimana perasaanku sebenarnya, memicu sebuah ledakan energi yang tak terbendung di dalam dada. Aku merasa tidak bisa lagi sekadar diam dan berpangku tangan, ada sebuah ketergesaan yang mendesakku untuk segera mengakhiri ketidakpastian ini dan menyatakan segalanya tanpa ada yang ditutupi.

​Melihat angkutan umum yang terjebak dalam keriuhan kemacetan kota yang seolah membeku, aku memutuskan untuk tidak lagi menjadi tawanan waktu. Aku melompat turun ke aspal, memilih untuk mengandalkan kedua kakiku sendiri demi mengejar ketertinggalan ini. Dengan nafas yang memburu dan semangat masa muda yang berkobar, aku berlari membelah keramaian, menyeberangi persimpangan jalan dengan satu tekad bulat, mencapai tempatmu berdiri sebelum senja benar-benar tenggelam.

​Cinta memang sering kali datang tanpa mengetuk pintu, hadir dalam bentuk momentum yang tidak pernah terprediksi dan rangkaian peristiwa yang terasa di luar nalar. Alih-alih membiarkanmu terus berdiri dalam penantian yang melelahkan di bawah langit yang mulai meredup, aku memutuskan bahwa akulah yang seharusnya mengambil peran untuk menunggumu di masa depan. Ketetapan hatiku sudah bulat, dan aku telah menyiapkan seluruh keberanianku untuk mengucapkan perasaan ku yang sebenarnya.

​Aku berangan-angan seandainya tubuh ini bisa seringan udara, sehingga aku mampu terbang melintasi kerumunan orang dan mendarat tepat di dalam perlindungan hangat naunganmu. Layaknya hembusan angin kencang yang hanya memiliki satu arah tujuan, aku memacu diriku lurus ke depan tanpa sedikit pun niat untuk menoleh ke belakang. Rasa kasih yang begitu besar ini menimbulkan getaran hebat di sekujur tubuh, sebuah sensasi asing yang justru menguatkan langkahku untuk terus bergerak maju meski tenaga mulai terkuras.

​Deru nafas yang terengah-engah menjadi simfoni dari perjuangan masa muda yang penuh gairah ini. Keinginan untuk segera sampai ke sisimu menghapus segala rasa lelah yang mencoba menghalangi jalan. Di tengah sisa kemacetan dan hiruk pikuk kota yang masih terjepit waktu, aku tetap berlari dengan segenap jiwa demi sebuah janji yang ingin segera kutunaikan, membuktikan bahwa cinta ini jauh lebih kuat dibandingkan rintangan apa pun yang menghalang di depan mata.