Untuk Seseorang : Bangku Taman

Kehadiranmu yang tiba-tiba menghilang dari pandangan menyisakan ruang hampa yang dipenuhi rasa khawatir. Aku sering melamun berjam-jam, memanggil kembali memori tentang senyumanmu yang begitu tulus dan jauh lebih cerah dibandingkan siapapun yang pernah kutemui. Kabar tentang kepindahanmu ke kota yang sangat jauh terasa menyesakkan, terutama karena aku kehilangan kesempatan untuk sekadar mengucapkan kata perpisahan di saat-saat terakhir pertemuan kita.

​Bayangan dirimu yang memacu sepeda motor menembus embusan angin kini menjadi gambaran yang terus berputar di kepalaku. Aku sering bertanya-tanya dalam hati, ke mana sebenarnya tujuan perjalananmu dan apakah langit di kota tempatmu tinggal sekarang secerah senyum yang dulu selalu kau bagikan. Meski jarak membentang luas, perasaan rindu ini tetap terjaga dengan utuh, memastikan bahwa sosokmu tidak akan pernah luntur dari ingatanku.

​Aku masih ingat betul momen-momen sederhana namun berharga di taman yang sepi itu. Kita sering menghabiskan waktu bersama, di mana kamu duduk dengan tenang di atas bangku itu sambil mendengarkan setiap bait puisi yang kubacakan dengan penuh emosi. Walaupun pertemuan pertama kita terjadi di bulan Desember yang dingin, kenangan itu terasa begitu hangat dan segar, seolah-olah baru saja terjadi kemarin sore meskipun waktu sebenarnya telah berlalu dengan sangat cepat.

​Kini, meski kita tidak lagi bisa bertatap muka, aku berusaha untuk tidak tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut. Aku memilih untuk terus menulis, percaya bahwa di mana pun kamu berada sekarang, kamu pasti mengharapkan aku untuk tetap melangkah maju. Terkadang, aku masih berkhayal kamu akan muncul secara tiba-tiba di bangku taman yang biasa kita tempati, sambil berkata "Unta! mau beli minum dulu?".

​Di saat-saat aku merasa putus asa dan kehilangan arah, memori tentangmu menjadi kekuatanku untuk bangkit kembali. Aku mencoba menutup mata dan melihat kembali mimpi-mimpi yang pernah kamu titipkan, serta membayangkan sosokmu yang sedang bertepuk tangan memberikan dukungan penuh untukku. Bagiku, kamu bukan sekadar kenangan yang berlalu, melainkan seorang teman abadi yang sosoknya selalu menetap di sudut hatiku, bahkan di tengah rintik hujan sekalipun.