Lenathea : Reinkarnasi
Sesal sepuluh tahun laksana sembilu
Mengurung jiwaku di ceruk nadir yang sunyi
Kupikir hadirmu akan membawa belu
Menghakimi khilafku dengan lisan yang keji
Namun kamu datang tanpa inkuisisi
Bukan dendam yang disimpan di balik relung
Tanpa ranum rayuan atau tagihan deklarasi
Didekap lukaku yang dulu kian tergulung
Kini cinta meluap untuk kedua kalinya
Pada atma yang sama, pada aksara yang identik
Merajut rahasia dalam pusaran alurnya
Menghidupkan asa di setiap derap detik
Jakarta kembali menjadi saksi yang tuli
Tentang romansa yang bersemi di sela beton
Tiada lagi ragu yang membuatku merana
Kita menari di atas aspal yang monoton
Rutinitas yang dicap terasa hambar
Tak berubah, itulah madu yang selalu kita tagih
Meski raga lelas dan langkah kian lebar
Bertemu denganmu adalah obat paling fasih
Apapun yang terjadi di cakrawala depan
Konvergensi kita adalah sebuah fardu
Tak peduli badai atau mentari yang garang
Cinta nirmala takkan mengenal sendu
Sedetik pun jemu tak pernah bertamu
Sebab nona adalah adiwarna dalam setiap celah
Aku menemukan surga di dalam dirimu
Suaka paling teduh untuk melepas lelah
Aku tak perlu bersalin rupa menjadi persona
Untuk mencintai dan dicintai secara purna
Di sisimu, pikiran tak lagi terhina
Jiwaku yang pudar kembali buana
Terima aku dengan segala ambivalensi
Mencintai setiap fragmen hidupku yang pahit
Tak ada lagi sekat yang menjadi premis
Kita adalah manunggal di langit yang sempit
Tak hanya berbagi tawa dan gempita
Namun hadir saat pedari merayap di pintu
Menjadi pelita yang menjaga nyala suci
Tanpa saling meminta, tanpa rasa kaku
Konsinyasi ini tumbuh dalam kompromi
Di balik rahasia yang kita jaga lekat
Biar dunia tak tahu tentang ekosonmi
Asalkan genggaman kita tetaplah berkat
Tiada yang membuatku merasa lebih genap
Selain atensi darimu yang begitu tulus
Dalam keabsurdan yang membuatku senyap
Cintamu mengalir bagai sungai yang mulus
Nona hanya ingin aku berdiri secara utuh
Sebagai manusia yang tak perlu bertopeng
Meski jalanku kadang goyah dan runtuh
Dirinya adalah sauh, pelabuhan yang lengang
Aku mencintaimu secara metafisis
Hingga aku lupa raga ini tengah sekarat
Biar maut menjemput di ujung garis
Asal bersamamu, jiwaku takkan berat
Biarlah rahasia ini abadi dalam gelora
Membakar sisa waktu yang kian menipis
Kita adalah pemenang di atas sengsara
Menutup epilog dengan tinta yang manis
「一度途切れた静寂の連なりを、今再び紡ぎ合わせよう。時の廃墟の上に, 秘密の城を再建する。」—マーシャ より