Lenathea : Retrospeksi di Titik Nadir

Aku tersungkur di labirin kelabu
Meratapi puing pilihan yang kandas
Segala yang kupuja musnah secara tandas
Meninggalkan jejak sesal yang membatu

​Menjadi hantu bagi langkahku sendiri
Dunia menyempit, mencekik ruang napas
Semua kemegahan yang kubangun dengan lepas
Runtuh seketika dalam sunyi yang nyeri

​Pertumbuhanku laksana kilat yang menderu
Begitu lekas menggapai puncak angkasa
Namun sekejap pula aku kehilangan asa
Jatuh terjerembap di tanah yang biru

​Di tengah malam yang dingin dan hampa
Sebuah cahaya berkedip membawa tanda
Sebuah tanya tentang kabar di balik dada
Dari jemarimu yang lama tak menyapa

​Bulan-bulan berlalu tanpa satu suara
Engkau hadir saat duniaku sedang karam
Apakah firasatmu menangkap duka yang suram
Atau hatimu sendiri yang sedang sengsara?

​Misteri itu tersimpan di balik cakrawala
Mengapa datang di titikku yang paling rendah
Saat jiwaku remuk dan nampak begitu lelah
Membasuh luka dengan kata yang nyala

​Tiada amarah yang kau kirim dalam diksi
Hanya rindu yang tumpah tak tertahankan
Tentang kehadiran yang dulu jadi sandaran
Kini kembali dalam bentuk halusinasi

​Rindu saat aku mengantarmu pulang
Membelah jalanan dengan sisa tenaga
Menjaga dirimu dengan rasa yang jaga
Sebelum bayangku di telan malam yang lengang

​Aroma tubuhku disebut dalam memoar
Menjadi candu yang sulit dilupakan
Kenangan makan berdua yang tak terelakkan
Saling menatap hingga sunyi menjadi pijar

​Ada satu memori yang paling menyayat
Saat pagi buta aku berpamitan santun
Mencium tangan orang tuamu dengan alun
Hingga kepalaku dibelai bagai sebuah ayat

​Restu mereka yang dulu terasa hangat
Kini menjadi duri dalam tidurku yang lelap
Betapa bodohnya aku memilih untuk lenyap
Meninggalkan kasih yang begitu semangat

Meski rahasia mencabik senyuman restu itu
Tiada bintang yang terasa buram
Saat kita berdua menjelajahi malam
Tiada gelap menjamahi benakku

​Kini aku terjaga dalam penyesalan yang abadi
Mendengar suaramu di sela rindu yang parau
Di titik nadir ini, jiwaku kian kemarau
Menyadari bahwa kamulah rumah yang takkan terjadi