Lenathea : Ambivalensi

​Di bawah temaram Jakarta yang lelap
Jarak bukan lagi dinding yang angkuh
Rahasia kita tak lagi berbisik senyap
Melebur dalam tawa yang kian tangguh

​Malam itu saksi rasa yang berbalas
Engkau bintang di langit yang ketujuh
Ketulusan tak lagi sekadar nirmalas
Namun pilihan sadar yang kian utuh

​Mencintaimu bagai mimpi yang menjelma
Menyentuh cakrawala dengan jemari fana
Kita merajut diksi dalam satu skema
Di tengah kota yang penuh fatamorgana

​Namun waktu membawa sauh yang berkarat
Logika menuntut masa depan yang pasti
Aku terhimpit usia yang kian berat
Mengejar kepastian, membunuh empati

​Kutinggalkan engkau demi sebuah kemungkinan
Memilih jalan yang terlihat lebih terang
Kupatahkan sayap di tengah penerbangan
Membiarkan hatimu karam dan terlarang

​Melalui layar, tangismu terasa menyayat
Pesan singkatmu adalah luka yang menganga
Panggilan tak terjawab menjadi ayat
Tentang pengkhianatan yang tak lagi berbunga

​Aku melangkah ke arah yang kupikir tepat
Namun nasib memutar balikkan kenyataan
Kepastian yang kucari berubah cepat
Menjadi derita di balik pernyataan

​Kini aku jatuh dalam jurang yang kelam
Terjebak dalam luka yang lebih dahsyat
Menelan pahit di setiap malam yang dalam
Tersesat di labirin yang penuh muslihat

​Aku adalah pelaku yang kini terkapar
Menjadi korban dari pilihanku sendiri
Namun dunia melarangku untuk menggelepar
Sebab akulah yang menanam duri di jari

​Tak pantas bagiku memohon belas
Saat kaulah yang kubuat hancur berkeping
Kini rinduku hanya bergema di gelas kandas
Di antara bayangmu yang kian terasing