Untuk Seseorang : Jarak Aman

Ada beban yang menyesakkan dadaku, sebuah kegelisahan yang begitu menghambat hingga aku merasa perlu membuangnya lewat helaian napas yang panjang. Seumpama sebuah balon yang selama ini kugenggam erat, kini kubiarkan ia terlepas dan membubung tinggi meninggalkan jemariku. Bersamanya, melayang pula segala rahasia yang terlalu berat untuk kusimpan sendiri, terbang menuju luasnya langit biru, membiarkan angin membawanya ke entah berantah agar aku tak perlu lagi memikul rahasia itu sendirian.

​Perasaan suka yang kurasakan ini sungguh menyerupai ekor kucing yang penuh muslihat, ia bergerak dengan lincah, menggoda, lalu menghilang begitu saja ke dalam kesunyian tanpa meninggalkan jejak. Ia melarikan diri dengan sangat lembut, membuatku kehilangan arah untuk mengejarnya. Sosokmu bagiku adalah matahari yang cahayanya terlalu benderang untuk kutatap secara langsung, hingga mataku terasa pedih oleh silaunya kehadiranmu yang begitu mempesona namun tak terjangkau.

​Karena rasa gentar akan keindahanmu itulah, aku memilih untuk membangun benteng pertahanan yang palsu. Aku sengaja memasang wajah tak acuh dan bersikap dingin, berpura-pura seolah kehadiranmu tidak memiliki pengaruh apa pun dalam hidupku. Dari kejauhan, aku hanya bisa menjadi pengamat yang sunyi, memeluk erat sebuah cinta tak berbalas yang sepenuhnya menjadi milikku sendiri, sebuah rahasia yang kujaga dalam diam agar tidak ada yang terluka oleh harapan yang rapuh.

​Ketakutan terbesar dalam batin ini adalah jika suatu saat engkau menyadari arah pandanganku yang selalu tertuju padamu. Membayangkan kemungkinan itu saja sudah cukup untuk membuat jantungku berpacu hebat, seolah-olah ia akan meledak di dalam dada karena tekanan emosi yang meluap. Aku sering kali menengadah, bertanya pada awan putih yang berarak tenang, mengapa perasaan yang seharusnya indah ini justru terasa begitu berat dan melelahkan untuk dijalani seorang diri.

​Cinta ini memang tidak bisa ditebak, bergerak ke sana kemari dengan lincah hingga sulit bagi tanganku yang gemetar ini untuk menangkapnya. Sebagai seseorang yang baru pertama kali terjebak dalam pusaran emosi yang sedalam ini, aku merasa benar-benar kehilangan kendali dan tidak memiliki pengalaman untuk mengatasinya. Aku hanyalah seorang pemula yang mencoba bertahan di tengah badai perasaan yang tidak pernah kupelajari sebelumnya.

​Namun, di balik sikap dinginku, aku tetap menyimpan secercah harapan kecil bahwa suatu hari nanti arah angin akan berubah dan menuntun pandanganmu kepadaku. Aku akan tetap bertahan di tempat ini, setia menanti meski dalam kesunyian, hingga keajaiban itu datang menyapa layaknya pelangi yang muncul setelah hujan reda. Sampai saat itu tiba, biarlah cinta ini tetap menjadi rahasia yang kusembunyikan di balik topeng ketidakpedulian, sambil terus memandangmu dari jarak aman yang kuciptakan sendiri.