Rumah : Botol Murah
Sebotol wiski murah akan menenangkan pikiranku, handuk yang tergantung di balkon, mengering dijamah panas lantai dua. Apa aku mengingatkanmu pada hari-hari yang samar? Ada saat dimana aku menolak untuk berkegiatan seharian, seolah kemalasan berterbangan masuk ke dalam badanku. Aku takkan menyalahkan siapapun, lelaki dewasa tak seharusnya menangis. Masih ingat sofa yang ada di depan aquarium itu? Dahulu aku membaca puisi-puisi cintaku, sementara dirinya bertepuk tangan dari dalam kamar. Bagaimana dia bisa pergi meninggalkan kita tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku ingat, aku masih mengingat semuanya.
Sikap dingin saat waktu pulang tiba, ia memintaku untuk memasak air. Saat itu kata-kata aneh terlontar begitu saja, dari mulutku yang setengah dewasa ketika pikiranku hancur. Foto-foto dan waktu yang terus berlalu, kini aku hanya tersenyum seperti itu ketika sedang mabuk.
Andai saja aku tak mengingatnya, tetapi nyatanya aku tetap ingat, setiap momen yang kita lalui pada malam-malam bersamanya. Aku menenggak segalanya demi menenangkan pikiranku. Tapi kapan sialnya, ia akan menenangkan pikiranku? Ia seperti kaki yang tertanam dalam beton di tengah terik nya musim panas, nembakar begitu hebat ketika jiwa saling berpamitan tanpa kata. "Tidak, kamu tak akan pernah menjadi lelaki yang selalu kamu janjikan, jadilah dirimu sendiri" Kata nya pada saat itu.
Aku hanyalah lelaki biasa, aku akan pergi tanpa bertanya ketika seseorang sedang berusaha untuk tidak diganggu oleh kata-kata dariku. Karena aku tidak asing dari sebuah pengasingan, jadi biarlah jika memang begitu. Mungkin ia akan tersenyum ketika melihatku bekerja seharian dirumah, setelah itu makan lalu mengucap rasa syukur. Akan ada lentera dimana lembaran yang kusimpan dengan penuh harap berbuah manis, jadi tidak akan kupaksakan kehendak apapun. Biar ia menuntunku melalui firasat nya yang tak pernah ia beritahu kepada ku, mungkin ini saat nya aku benar-benar menjadi sesuatu yang keras.