Luruh
Ada jam-jam tertentu di separuh malam, ketika suara peradaban surut dan ruang-ruang tinggal menyisakan gema nafas sendiri, di saat realitas yang setiap hari kita anggap wajar mendadak mengalami retakan tersembunyi. Benda-benda di sekeliling kita seperti permukaan meja yang dingin, sudut-sudut dinding yang bisu, hingga jam dinding yang terus memahat waktu, tak lagi berdiri sebagai sekedar objek keseharian. Di balik keteraturan yang mekanis itu, mendadak menyelinap sebuah keasingan yang merayap pelan, sebuah pertanyaan ontologis yang mengusik fondasi eksistensi. Mengapa ada sesuatu dan bukannya ketiadaan? Mengapa kesadaran ini terlempar ke dalam bentuk tubuh ini, di titik waktu ini, tanpa ada petunjuk naskah yang pernah kita sepakati sebelumnya? Jika kita merenungkannya melalui kacamata eksistensial, fenomena keberadaan manusia sejatinya diawali oleh apa yang disebut Martin Heidegger sebagai Geworfenheit yaitu sebuah keadaan keterlemparan. Kita diproyeksikan ke dalam medan realitas tanpa...