Senandika Sebelum Ikrar
Dirinya menjelma dwirupa dalam ihwal menyampaikan kisah. Sesekali ia menumpahkan senandika melalui titah lisan yang lirih, sesekali lagi menyuratkan aksara yang menempuh bentang antara hingga berlabuh ke hadapanku sebagai kabar yang nyaris serupa wasiat dari musim yang belum pernah singgah. Barangkali tiada seorang pun menyadari bahwa perjumpaan demikian sederhana sanggup menggeser poros hidup seseorang barang sejengkal. Namun demikianlah yang menimpaku. Sejak tutur pertamanya menyelinap ke relung nalar, jendela yang bertahun tahun kukatup rapat seolah menemukan engselnya kembali. Arunika yang semula hanya mengusap ufuk, perlahan merayapi rongga batin yang sekian lama diteduhi kulawu nestapa. Sejak saat itulah nayanika ini mulai tertambat kepada rincian yang sebelumnya tak pernah kupandang sebagai sesuatu yang layak dipuja. Tebal bibirnya mengandung keteduhan yang sukar dipertela, lengkung senyumnya menyerupai candrakirana yang menyentuh tirta tanpa menimbulkan riak, sedangkan rambut y...