Paradoks Sosial : III
Manusia akan tiba di suatu persimpangan ketika mempertahankan kehidupan berarti mengkhianati sesuatu yang selama ini disebut sebagai kemanusiaan. Segala ajaran tentang kebaikan, kejujuran, dan belas kasih perlahan kehilangan wibawa ketika berhadapan dengan kenyataan yang tidak mengenal belas kasihan. Dunia tidak selalu memberikan penghargaan kepada mereka yang berbuat benar, sebagaimana penderitaan tidak selalu menjadi ganjaran bagi mereka yang berbuat salah. Di tengah ketimpangan semacam itu, manusia mulai memahami bahwa moralitas yang diagungkan sejak kecil belum tentu mampu menjadi perisai ketika kehidupan menuntut pengorbanan yang nyata.
Kebaikan sering kali diajarkan sebagai kodrat, seolah-olah manusia dilahirkan dengan hati yang bersih dan hanya keadaan tertentu yang membuatnya menyimpang. Namun, pandangan tersebut mengabaikan kenyataan bahwa kebaikan juga merupakan kemewahan yang membutuhkan ruang untuk tumbuh. Seseorang dapat memilih kejujuran ketika kebohongan tidak menawarkan keselamatan, memilih kemurahan hati ketika kebutuhan hidup telah terpenuhi, serta memelihara belas kasih ketika tidak ada ancaman yang mengintai. Akan tetapi, ketika kelaparan menggerogoti tubuh, ketakutan merampas ketenangan, dan ancaman berdiri di depan pintu, nilai-nilai luhur itu mulai berhadapan dengan naluri paling purba untuk tetap hidup.
Dalam keadaan tertentu, kebohongan tidak lagi dipandang sebagai penyimpangan, melainkan sebagai jalan keluar dari hukuman yang tidak adil. Manusia belajar menyembunyikan kebenaran, menyusun alasan, dan mengenakan wajah yang tidak mencerminkan isi pikirannya. Kejujuran yang dahulu dianggap sebagai kehormatan berubah menjadi kelemahan ketika kebenaran justru digunakan sebagai senjata oleh mereka yang berkuasa. Perlahan, lidah kehilangan kesuciannya dan kata-kata menjadi alat pertahanan. Tidak ada lagi kepastian bahwa orang yang berbicara jujur sedang melakukan kebaikan, sebab terkadang kebenaran hanya mempercepat kehancuran seseorang yang terlalu naif untuk memahami cara kerja dunia.
Pengkhianatan pun tumbuh dari tanah yang serupa. Manusia tidak selalu meninggalkan kesetiaan karena kehilangan cinta atau kepercayaan, tetapi karena kesetiaan terkadang menuntut pengorbanan yang tidak sanggup ditanggung. Ketika keselamatan pribadi dipertaruhkan, janji yang pernah diucapkan dengan sungguh-sungguh dapat berubah menjadi beban yang ingin segera disingkirkan. Seseorang mungkin menyerahkan rahasia sahabatnya demi menyelamatkan diri, meninggalkan orang yang pernah berjuang bersamanya demi memperoleh tempat yang lebih aman, atau menyangkal hubungan yang dahulu dianggap suci demi menghindari kehancuran bersama. Di hadapan ancaman, kesetiaan tidak selalu mati karena kebencian. Terkadang kesetiaan mati karena ketakutan yang lebih besar daripada keberanian untuk mempertahankannya.
Di titik yang lebih gelap, manusia bahkan dapat memandang kehidupan orang lain sebagai penghalang bagi keberlangsungan hidupnya sendiri. Kekerasan yang semula dianggap sebagai sesuatu yang tidak terbayangkan perlahan memperoleh pembenaran melalui keadaan, dendam, atau keyakinan bahwa tidak ada jalan lain untuk bertahan. Membunuh menjadi kemungkinan yang sebelumnya ditolak oleh nurani, lalu dipertimbangkan oleh pikiran yang telah dikepung keputusasaan. Hal yang paling mengerikan bukan semata-mata kemampuan manusia untuk merenggut kehidupan, melainkan kemampuannya untuk menyusun alasan yang membuat tindakan tersebut terasa perlu. Nurani tidak selalu menghilang sebelum kejahatan dilakukan. Terkadang nurani tetap hidup, tetapi dipaksa berlutut di hadapan ketakutan.
Pencurian memperlihatkan sisi lain dari pertentangan tersebut. Kepemilikan, yang dibangun melalui kerja keras dan pengorbanan, dapat kehilangan makna sakralnya ketika kebutuhan mendesak tidak lagi mengenal batas. Seseorang yang kelaparan mungkin mengambil makanan yang bukan miliknya, sementara orang lain merampas harta sesamanya demi mempertahankan kenyamanan yang tidak ingin dilepaskan. Tindakan keduanya mungkin tampak serupa dari kejauhan, tetapi lahir dari keadaan batin yang berbeda. Meski demikian, penderitaan tidak otomatis menjadikan setiap pelanggaran sebagai kebenaran. Kesulitan dapat menjelaskan mengapa manusia melakukan kejahatan tanpa harus menghapus tanggung jawab atas akibat yang ditimbulkannya.
Dari sana, muncul pertanyaan yang lebih mengusik daripada sekadar membedakan perbuatan baik dan buruk. Apakah manusia tetap dapat disebut bermoral apabila kebaikannya hanya bertahan selama tidak ada sesuatu yang harus dikorbankan? Apakah kejujuran benar-benar merupakan prinsip apabila seseorang meninggalkannya begitu keselamatan terancam? Barangkali ukuran watak manusia bukan terletak pada kesalehan yang ditampilkan ketika keadaan mendukung, melainkan pada pertentangan batin ketika kepentingan pribadi berbenturan dengan hak orang lain. Namun, bahkan ukuran tersebut tidak sepenuhnya sederhana, sebab tidak semua orang memiliki pilihan yang sama luasnya ketika menghadapi kehancuran.
Dunia yang kejam memiliki cara tersendiri untuk mengubah manusia tanpa perlu mengajarinya membenci. Cukup dengan mempertemukannya berulang kali dengan ketidakadilan, memaksanya menyaksikan kebaikan yang tidak mendapat balasan, lalu membiarkannya menanggung akibat dari kepercayaan yang salah tempat. Sedikit demi sedikit, belas kasih dianggap sebagai celah yang dapat dimanfaatkan, kejujuran dipandang sebagai kebodohan, dan pengampunan dicurigai sebagai undangan untuk disakiti kembali. Manusia mulai membangun pertahanan dari segala sesuatu yang dahulu membuatnya merasa hidup. Dalam usaha menghindari kehancuran, ia perlahan menyerupai hal-hal yang pernah menghancurkannya.
Akan tetapi, bertentangan dengan kemanusiaan tidak selalu berarti kehilangan seluruh kemanusiaan. Ada perbedaan antara seseorang yang terpaksa melakukan kebohongan demi menyelamatkan nyawa dan seseorang yang berbohong untuk memperbudak kehidupan orang lain. Ada jarak antara kekerasan yang dilakukan dalam keadaan terdesak dan kekerasan yang lahir dari kesenangan menguasai. Keadaan dapat mempersempit pilihan, tetapi tidak serta-merta menghapus perbedaan di antara motif, tindakan, dan akibat. Justru di tengah dunia yang memaksa manusia mengotori tangannya, kesadaran terhadap batas menjadi salah satu hal terakhir yang membedakan perjuangan untuk bertahan hidup dari kehancuran moral yang disengaja.
Akhirnya, mungkin tragedi terbesar manusia bukanlah kenyataan bahwa kebaikan dapat dikalahkan oleh kebutuhan untuk bertahan hidup, melainkan kemungkinan bahwa manusia akan terbiasa mengalahkan kebaikan dalam dirinya sendiri. Kebohongan yang pertama menimbulkan kegelisahan, pengkhianatan yang pertama meninggalkan luka, kekerasan yang pertama mengguncang nurani, dan pencurian yang pertama menuntut pembenaran. Namun, pengulangan dapat mengubah kegelisahan menjadi kebiasaan, luka menjadi ketidakpedulian, dan pembenaran menjadi keyakinan. Manusia pun terus hidup, tetapi tidak selalu dengan membawa seluruh bagian dirinya yang dahulu ingin dipertahankan. Sebab terkadang, ketika kehidupan menuntut harga yang terlalu mahal, seseorang berhasil menyelamatkan keberadaannya dengan mengorbankan alasan yang membuat keberadaan itu layak diselamatkan.