Liturgi : Berhala Madilog
Langit kelam membusuk bau darah manusia
Nisan tua retak bersimbah nanah luka
Mantra benci dibungkus berkat nafsu angkara
Bibir penuh belatung mengunyah dusta celaka
Kitab usang penyulut api neraka fana
Tinta hitam berlumur dendam meracuni tulang
Nyawa terhenti paksa dalam jagal hina
Algojo iman berpesta di jasad malang
Iman menjelma pedang merobek isi dada
Menghakimi beda dengan murka hancurkan tulang
Nurani mati membusuk liang gelap gulita
Rintihan sakit terdengar sangat nyaring lantang
Sabda nabi tanpa damai menjadi kutukan
Memicu perang hangus jadi lautan bangkai
Cinta hanyalah topeng kosong untuk penindasan
Martabat manusia diinjak-injak hingga terkulai layu
Pemuja tuhan bisu mengasah belati besi
Mencungkil mata penolak dogma yang basi
Kebenaran dibungkus nafsu lahirkan tragedi keji
Bangkai tradisi menguap aroma maut mati
Surga dijanjikan lewat aliran darah deras
Membantai sesama tanpa rasa belas kasihan
Langkah searah menuju kehancuran sangat beringas
Gerbang sunyi menunggu dengan tawa mengerikan
Busuk penilaian balik jubah putih palsu
Mencium anyir tangan pemutus urat nadi
Manusia jadi tumbal ego iman nafsu
Santapan serigala suci yang haus abadi
Runtuh pilar cahaya doa sesat beracun
Kesombongan hamba merasa benar depan maut
Agama candu jaya hancurkan peradaban tekun
Membelenggu jiwa hancur berkeping saat kiamat