Liturgi : Bagaimana?

Bagaimana jika kau hanyalah sampah sejarah?
Menyembah Tuhan palsu hasil halusinasi buta
Kebencian di batinmu lahir dari bernanah
Dengki busuk yang menggerogoti jiwa nista

​Bagaimana jika nabimu tak pernah menapak?
Hanya dongeng usang penyulut api neraka
Perang syariat hanyalah syahwat yang merampak
Merampas harta di balik topeng doa

​Bagaimana jika nabimu adalah babi hina?
Gemar berzina di atas altar yang amis
Kitabmu karangan bocah autis yang gila
Tinta hitamnya lahir dari otak yang bengis

​Surga yang kau damba hanyalah khayal fana
Tempat pembuangan bagi akal yang sekarat
Ibadahmu sia-sia tak berujung ke mana
Hanya tarian bodoh di hadapan maut lekat

​Kau basuh dahi dengan air yang najis
Bersujud pada kehampaan yang sangat sunyi
Dinding nuranimu runtuh terkoyak kian habis
Menyadari kebenaranmu hanyalah sampah yang keji

​Sejarahmu ditulis dengan sperma dan darah
Atas nama wahyu yang dikarang sang gila
Langkahmu buta menuju jurang yang parah
Menjadi tumbal bagi naskah penuh cela

​Dunia tertawa melihat sujudmu yang dungu
Pada sosok fiktif pembantai nurani manusia
Otakmu membeku di dalam sangkar belenggu
Memuja kebohongan yang kau anggap mulia

​Mati saja kau dalam pelukan hampa
Sia-sia seluruh hidup dalam tipu daya
Tuhanmu mati membusuk tanpa sisa rupa
Meninggalkan jasadmu yang hancur tak berdaya