Adiksi : Rumah

Aku mengumpulkan sisa-sisa letih yang terserak di sudut batin, menyusun kembali kepingan diri yang sempat layu oleh waktu. Dahulu, aku hanyalah seorang pengelana yang hanya tahu cara bersandar. Bagiku, hatimu adalah satu-satunya pelabuhan tempat segala gelisah diredam. Tanpa perlu banyak kata yang terucap, caramu memahamiku tanpa syarat adalah definisi rumah yang paling benderang. Di sana, aku merasa utuh, seolah-olah seluruh duka yang kupikul selama ini menemukan tanah tempatnya terkubur dengan tenang.

​Namun, waktu adalah sungai yang terus mengalir, membawa kita melewati ribuan kenangan yang kini terpatri dalam ingatan. Aku sering bertanya-tanya, di labirin pikiranmu yang luas, di manakah letak bayanganku bersemayam? Apakah aku adalah sekadar sisa percakapan yang usang, ataukah aku adalah detak yang masih kamu simpan di relung paling hangat? Bagiku, setiap momen yang terukir jauh di dalam ketulusanmu bukan sekadar memori, melainkan dinding dan atap yang menjagaku dari dinginnya dunia luar.

​Kini, aku berdiri di titik yang berbeda, tak lagi sekadar menjadi jiwa yang menuntut perlindungan. Aku ingin menyampaikan ketulusan yang barangkali terdengar naif ini, bahwa aku akan menetap di sini, tak beranjak dari sisi yang paling dekat dengan nadimu. Jika selama ini kamu adalah tempatku pulang, maka biarkan kini langkahmu menemukan muaranya padaku. Kita tak perlu lagi mencari ke mana arah pulang, sebab dalam kebersamaan yang sunyi namun lekat ini, kita telah sampai pada tujuan yang paling hakiki.

​Datanglah padaku dengan segala beban yang kamu simpan rapat, bawalah air mata yang selama ini kamu paksa sembunyikan di balik senyum ketegaranmu. Letakkanlah semua keresahan yang selalu kamu tunda hingga esok hari, dan biarkan pundakku menjadi bantal bagi lelahmu yang paling berat. Di sini, di pelukanku, kamu boleh berhenti berpura-pura kuat. Istirahatlah sejenak, biarkan waktu berhenti berputar, karena mulai saat ini dan selamanya, biarkan aku yang menjadi rumah bagimu.