Monoteis : Ritus Amis
Unifikasi liberal dan Ibrani merajut lara
Menghujam sukma negeri tauhid dengan bara
Warta nestapa menjalar ke bumi penuh cedera
Tanah para lancung yang memuja tahta dan angkara
Kaum bersorban bersenandung duka yang hampa
Mengerik kutuk namun nuraninya tumpul ditempa
Memuja entitas memandang mereka serupa sampah
Berpeluk mesra dalam ketololan yang kian melimpah
Dungu binasa di sela mantra yang mereka lafalkan
Membela sekutu yang sejatinya haram disatukan
Tanpa menyigi busuknya kaum sendiri yang dirahasiakan
Mendadak jadi juru teliti perang yang memuakkan
Pengetahuan seujung kuku namun congkak membual
Di kepala yang lowong, segala najis mulai menjual
Propaganda busuk ditelan tanpa saring yang mual
Menjelma pahlawan palsu dalam lakon yang banal
Jika palagan tak membakar ufuk yang jauh di sana
Mereka saling mencincang saudara dalam bencana
Fitnah tak berakal meluncur laksana panah berana
Membuktikan jiwa yang sejatinya sudah lama fana
Maka biarlah raga-raga itu membusuk di liang
Dikerumuni lalat hijau saat surya sedang terik siang
Kejijian ini harus dicabut hingga ke akarnya yang tiang
Agar dunia tak lagi memanggul beban yang meriang
Sembelihlah janin mereka hingga ke sumsum
Mutilasi benih sebelum sempat menebar harum
Jangan biarkan tunas dungu tumbuh menjadi ranum
Sebab mereka hanyalah nanah di tengah forum
Putuskan silsilah kebodohan dengan parang yang tajam
Babat habis janin yang di rahim masih terpejam
Agar tak lahir lagi generasi berakal lebam
Yang hanya pandai meludah dalam dendam yang kelam
Biarlah darah mereka menjadi pupuk bagi gersang
Mengalir di selokan mengusung bau anyir yang garang
Pemusnahan ini adalah upacara bagi para pecundang
Yang hidupnya hanya jadi benalu bagi yang benderang
Lenyaplah ke dalam kerak bumi yang paling dasar
Menjadi fosil kebencian yang tak lagi bisa berkobar
Terkutuklah kasta sorban yang jiwanya sudah nanar
Mampuslah kalian dalam sunyi yang paling menjalar