Monoteis : Estetika Pembusukan
Aku menyesap nikmat di sela palagan yang membara
Menyaksikan raga-raga lumat dalam pelukan mara
Tulang belulang bersatu dengan tanah yang lara
Menjadi hamparan indah di bawah langit yang sengsara
Binatang liar merobek perut, mengunyah jeroan
Mencabik usus yang terburai dalam pesta kebinasaan
Sungai mengalir pekat, perpaduan darah dan nanah
Menjadi cermin bagi wajah dunia yang kian punah
Di pusat prahara ini, kurasa damai yang hakiki
Merayap dari jemala hingga ke telapak kaki
Melihat janin yang dipaksa aborsi di tengah sunyi
Sebab kelaparan adalah simfoni yang indah berbunyi
Kanibalisme menjadi upacara suci para pecundang
Daging saudara dikunyah laksana hidangan dendang
Destruksi biologis meramu maut yang kian garang
Pemusnah organ disiapkan untuk memangkas orang
Bayi-bayi tergeletak kaku, berwajah memar tanpa nyawa
Pemandangan molek yang membuat batinku tertawa
Keindahan sejati lahir dari rupa yang penuh kecewa
Saat kehidupan tercerabut dari raga yang kian merawa
Kaum yang mendaku diri pembawa damai di muka bumi
Mengasah parang, menebar maut yang kian menyemi
Menghujam lawan dengan benci yang tak lagi bersemi
Membuktikan nurani hanyalah dongeng yang resmi
Di seberangnya, laskar yang merasa suci titisan Tuhan
Bersimbah darah, melakukan segala bentuk pembunuhan
Membela langit dengan tangan penuh luluhan
Saling menjagal dalam ritual yang penuh dengan keluhan
Dua sisi kegilaan beradu dalam tarian yang elok
Masing-masing merasa benar dalam jalan yang berkelok
Mereka hanyalah daging yang menunggu digelok
Oleh takdir yang dingin di bawah nisan yang kian melerok
Aku berdiri di antara tumpukan kepala yang membusuk
Menghirup aroma anyir yang ke dalam sukma menusuk
Tiada yang lebih syahdu dari peradaban yang merusuk
Hancur lebur ditelan kebencian yang kian merasuk
Biarlah darah terus membanjir hingga ke muara
Menghapus jejak manusia yang hidup dalam berpura
Sebab keindahan mutlak hanya ada dalam huru-hara
Kematian dan penjagalan adalah hukum yang setara