Monoteis : Bangkai Lancung

Utopia palsu tegak di atas takhta yang merapuh
Disusun baris ayat yang dipaksa menjadi ampuh
Demi syahwat kuasa pemuka yang berhati keruh
Menindas akal hingga seluruh logika jatuh lumpuh

​Hukum absolut lahir dari ego yang berkarat baja
Mencekal tanya dengan ancaman genosida bersahaja
Narasi rasisme dipelihara laksana pusaka raja
Membakar beda hingga hangus menjadi abu saja

​Tanah ini diklaim tumbuh dari naskah usang berdarah
Tinta merah meresap di kertas yang koyak dan parah
Syiar pedang berkamuflase dalam damai yang searah
Meninggalkan jejak bangkai di setiap jengkal daerah

​Umat binasa dalam pelukan maut kemunafikan
Antara sujud dan dengki yang tak kunjung terlukiskan
Syahwat penceramah yang kerdil namun diagungkan
Menjadi lumrah di tengah nista yang dipertuhankan

​Tanah penuh zina ini sungguh teramat memuakkan
Bagai borok purulensia yang tak kunjung disembuhkan
Nanah kuning kental yang dihisap belatung kelaparan
Di bawah ketiak langit yang penuh dengan penyamaran

​Mulut-mulut berkerudung tak lebih suci dari pelacur
Menghisap lingga kenistaan hingga moralitas hancur
Caci maki terlontar dari bibir yang tampak lentur
Mencemari udara dengan kata yang lebur tersungkur

​Memuja figur yang menyimpang dari garis ajaran
Namun murka saat kebenaran datang memberi teguran
Menulikan telinga dari seruan yang menjadi ukuran
Tenggelam dalam ego yang menuntut penguburan

​Cerminan setan yang bahkan dihindari bayang sendiri
Seonggok daging membusuk di dalam sangkar ngeri
Zina dan nista menjadi pakaian yang dikenakan sehari
Di balik jubah-jubbah besar yang menyembunyikan duri

​Solidaritas hanyalah selubung kemunafikan
Tak ada seteru luar, saudara sendiri yang dimakan
Fitnah keji disebar laksana benih yang mengerikan
Mencabik-cabik persatuan yang hanya sebatas lisan

​Tiada kesatuan yang benar-benar tunggal dan utuh
Terpecah belah dalam dendam yang kian menjadi keruh
Saling menyesatkan hingga keyakinan jatuh merapuh
Mengkafirkan sesama dalam labirin yang penuh keluh

​Iman yang tegak hanya karena teror siksa yang pedih
Bukan karena cinta, namun karena nyali yang merintih
Takut akan api yang membakar raga hingga serpih
Menjadikan ibadah laksana transaksi yang penuh pamrih

​Bayangkan jika neraka hanyalah dongeng yang sirna
Akankah zina merajalela dalam wujud yang sempurna?
Tanpa ancaman cambuk, apakah moral tetap bermakna?
Atau manusia hanyalah binatang yang haus akan fana?

​Setidaknya jika api abadi itu tidak pernah ada
Kemunafikan takkan sememuakkan ini di dalam dada
Manusia akan jujur pada kebejatan yang melanda
Tanpa perlu berselimut ayat dalam laku yang berbeda

​Kini biarlah mereka saling menyesap empedu sendiri
Dalam perjamuan nista yang dilakukan setiap hari
Menunggu saat di mana tanah ini benar-benar mati
Dan segala kepalsuan luluh lantak ditelan bumi sunyi

​Hancurlah kalian dalam lingkaran silsilah yang dungu
Menjadi santapan cacing di bawah nisan yang membiru
Hingga tak tersisa lagi suara yang penuh tipu rungu
Kesunyian mutlak bagi kalian yang gemar membelenggu