Adiksi : Penghujung Musim
Di bawah langit yang terus berganti warna, aku telah memahat sebuah janji yang tidak akan terkikis oleh jam yang berdetak. Dunia boleh saja lelah dan memilih untuk berhenti berputar, atau musim-musim boleh saling sikut untuk berganti rupa, namun langkahku telah terpaku di titik ini. Aku adalah saksi bisu yang memilih untuk tidak beranjak, menjadi jangkar di tengah arus waktu yang menderu, hanya demi memastikan bahwa saat kamu menoleh nanti, kamu akan menemukan sosok yang sama, yang masih menunggumu dengan ketulusan yang tidak berkurang sedikit pun.
Kesetiaanku bukanlah sesuatu yang megah, ia serupa bintang-bintang di pekat malam, terkadang terhalang mendung, namun keberadaannya mutlak dan tak pernah padam. Waktu yang kita habisakan bersama bukanlah sekadar debu yang hinggap lalu hilang, melainkan mimpi yang terjaga dalam setiap helas napasku. Bahkan saat angin dingin menusuk kulit, aku masih bisa meraba sisa kehangatanmu yang tertinggal di sela jemariku, seolah-olah jiwamu telah menyatu dengan udara yang kuhirup, membuat perpisahan hanyalah sebuah ilusi yang gagal memisahkan kita.
Aku tidak akan membiarkanmu berjalan sendirian saat langit mulai menumpahkan tangisnya dan jalan di depanmu kehilangan cahaya. Dalam kegelapan yang paling pekat sekalipun, aku akan menjadi lentera yang tidak hanya menerangi langkahmu, tapi juga menghalau ketakutan yang mencoba merayap masuk ke hatimu. Genggaman tanganku adalah sebuah sumpah bahwa bebanmu adalah bebanku juga; sebuah bukti bahwa kesetiaan bukan sekadar tentang bertahan dalam senang, melainkan tentang kesediaan untuk tetap menjadi tempat berteduh di tengah badai yang paling riuh.
Cinta yang kutawarkan padamu adalah melodi sunyi yang terus bersenandung di palung hatiku, sebuah nyanyian tanpa akhir yang kupersembahkan bagi setiap detik yang kita lalui bersama. Aku akan menjaga setiap detik waktu yang kita bagi, menyimpannya dalam ruang paling suci di dalam diri, seolah itu adalah pusaka yang tak ternilai harganya. Hingga waktu akhirnya kehilangan maknanya dan napas terakhirku terlepas, aku akan tetap menjadi cahaya itu, cahaya yang ada untukmu, karena bagiku, mencintaimu adalah satu-satunya tujuan yang membuat hidup ini layak untuk diperjuangkan.