Adiksi : Melankolia
Di bawah pendar lampu yang temaram dan redup
Teguk etik mengalir dalam sukma yang meletup
Aroma tembakau mengambang, menyesaki hidup
Antara rindu yang baka dan nalar yang nyaris tutup
Akan dicinta dalam ketersesatan yang menutup
Bagai bayang dalam cangkir duka berhulu tiup
Netra adalah insomnia yang enggan memejam
Mengeja wajah di dinding malam yang lebam
Saat nikotin membakar sepi hingga menjadi kelam
Terperangkap dalam labirin perasaan yang tajam
Cinta adalah ibadah sekaligus dosa yang mendalam
Kewarasan akan karam dalam lautan yang paling diam
Jiwa adalah guncangan yang tak henti berganti rupa
Detik ini memuja, sekejap kemudian penuh dengan cela
Garis batas merajut badai dalam dada yang penuh luka
Keterbangan dan kebebasan adalah racun yang menggila
Adalah sauh, namun juga ombak yang memicu damba
Dalam siklus afeksi yang penuh dengan paradoks fana
Ada getar disonansi dalam setiap desah napas
Seperti asap putih yang menari lalu hilang tak berbekas
Dekaplah dengan hangat, meski jiwa begitu retas
Penuh dengan jelaga dan sisa-sisa mabuk yang buas
Cinta adalah racun yang di suling dengan rasa cemas
Agar tak pergi saat mentari mulai terasa panas
Maka biarlah tetap terjaga dalam perjamuan lara
Menghitung abu yang jatuh bagai serpihan aksara
Mencintai adalah kegamangan yang paling membara
Di antara kepulan asap dan tegukan cairan amara
Sebab dalam sakit, hati yang menjadi muara
Tempat pulang meski raga telah kehilangan suara