Metafora : Seorang Hamba
Menghadap cermin yang nanar dan retak
Ada raga yang asing, jiwanya tersentak
Benci pekat yang merayap bagai jelaga
Menubruk sosok pria yang kehilangan raga
Hamba adalah asing dalam kulit sendiri
Mengerami muak yang tumbuh di sela jemari
Sejarah adalah belantara yang menyesatkan
Rantai-rantai kelam yang tak kunjung terlepaskan
Segala kemelut yang buntu dan tak terurai
Membuat sisa kewarasan perlahan tercerai
Hamba adalah budak dari fakta yang durjana
Terjebak dalam labirin nestapa yang fana
Seperempat nyawa telah tumpas dijarah
Oleh kegelapan yang rakus dan berdarah
Ada lubang menganga di bilik jantungku
Tempat cahaya dulu pernah bermuara kaku
Jiwa yang rumpang ini terseret arus
Di antara bayang-bayang yang kian menghalus
Namun, di titik nadir yang paling jahanam
Ada getar yang lembut merendam
Cinta datang bukan sebagai penawar fana
Melainkan api kecil di tengah gulita sanga
Ia menyentuh luka yang paling purba
Menghalau dingin yang sempat bertahta tiba-tiba
Asa itu tumbuh dari puing reruntuhan
Cahaya bukan sekadar angan dalam kelumpuhan
Setelah sekian lama menjadi bayang
Cinta ini menuntun ruh untuk kembali pulang
Tak lagi hamba sudi mendekap benci
Sebab benderang mulai menyapa nurani yang suci
Melangkah dari lembah yang karam
Membawa sisa jiwa yang tak lagi suram
Menuju mentari yang menjanjikan suaka
Melepas belenggu, mengakhiri segala luka
Meski tertatih, hamba kan sampai jua
Di pelukan cahaya yang membasuh jiwa