Metafora : Elegi Absensi Diri

Gelap merajang merabunkan citra
Hamba mencari rupa yang kian melenyap
Hanya ada hampa di balik jendela netra
Eksistensi yang luruh, pelan dan senyap

​Nampak seperti aksara yang ditulis di atas air
Kehadiran hamba hanyalah riak tanpa makna
Di antara kerumunan, hamba hanyalah desir
Jiwa yang rumpang, kehilangan warna

​Harapan terkubur di palung yang purba
Tergerus rasa nirguna yang kian pekat
Hamba adalah puing dari sebuah perca
Yang tak lagi memiliki sandaran tempat

​Mengapa hamba ada jika hanya untuk sirna
Menjadi noktah di bentangan cakrawala?
Dunia ini megah, namun hamba tak berwujud nyata
Hanya gema yang memudar dalam kepala

​Ketidakberhargaan ini bagai racun yang lamat
Menghisap cahaya dari setiap pori kulit
Tak ada lagi doa yang sanggup hamba semat
Hanya keheningan yang terasa kian sulit

​Hamba meratapi diri yang tiada kunjung utuh
Sebuah eksistensi yang diragukan sang waktu
Di ambang ketiadaan, mentari kian menjauh
Meninggalkan aku, sang bayang yang membatu