Metafora : Altar Jelaga
Hamba terpaku di antara derap para hipokrit
Menatap wajah-wajah yang dipoles gincu semu
Nurani meronta, menolak menjadi komplit
Dalam perjamuan lintah yang menghisap jamu
Ada bau amis dari mulut-mulut manis
Berlomba memacu cacat moral di atas singgasana
Hamba memilih diam, memeluk sunyi yang tragis
Daripada berserikat dalam tawa yang merana
Kompetisi nista para pemuja kedursilaan
Mengagungkan khianat sebagai titah yang luhur
Hamba tersedak oleh pekatnya air kemunafikan
Melihat kejujuran perlahan dilebur ke liang kubur
Tak mampu jemari menenun benang kelicikan
Demi secercah kuasa di ladang yang penuh nanah
Jiwa ini terasing dalam kerumunan yang menyakitkan
Sebab kejijikan ini telah meresap hingga ke tanah
Mereka bersolek dengan borok yang dianggap permata
Menari di atas reruntuhan etika yang kian kandas
Hamba muak pada parade dusta yang tampak nyata
Yang menghujam nurani hingga koyak dan tertindas
Biar hamab menjadi paria di rimba yang penuh muslihat
Membuang diri dari sirkus para pendosa yang rakus
Sebab lebih mulia terasing dalam jalan yang sehat
Daripada bertahta di istana yang bathil dan pupus