Mengenal : Sebab Akibat
Aku terbangun karena mendengar banyak suara orang yang berbeda, ada tiga orang yang duduk berhadapan denhan ku, dua diantara nya adalah Vivi dan Ratna, lalu ada Aldi, disebelah kanan ku ada wali kelas ku dan disebelah kiri ku ada kepala sekolah. Di pintu ruangan itu penuh dengan anak yang mengintip, sampai jendela juga, ada beberapa yang saling bergantian menggendong untuk mengintip.
Kita sebut saja "korban" itu sebagai "jagoan".
Ketika aku sadar dengan penuh dan diberi minum, kepala sekolah langsung bertanya kepadaku, hal apa yang telah dilakukan jagoan itu kepadaku, aku hanya menjawab dengan menggelengkan kepala dan berkata tidak ada. Ia hanya berkata bahwa teman sekelas ku sudah memberi tahu semua nya tetapi enggan untuk melapor karena mereka takut akan konsekuensi nya, bisa jadi mereka yang akan dirundung juga. Aku hanya menangis sambil berkata "dari kelas satu" setelah angkatan tertentu lulus, jagoan itu ambil bagian untuk memalak uang saku ku, pada saat itu aku hanya menangis sesak sambil memohon kepada wali murid ku untuk tidak mengeluarkan ku dari sekolah dan untuk tidak melapor ke orang tua ku, lalu aku diizinkan untuk pulang lebih cepat.
Besok nya aku masuk sekolah seperti biasa, di siang itu sebelum masuk kelas aku sempat melihat orang tua jagoan itu masuk ke ruang guru. Saat aku berjalan ke dalam kelas, aku bisa mendengar betapa ramai nya suasana kelas saat itu dan ketika aku masuk menjadi hening, aku tidak langsung berjalan menuju tempat duduk ku tetapi aku berjalan ke arah anak buah jagoan itu untuk menyerahkan uang sakuku sebelum diminta paksa, saat itu mereka hanya menggelengkan kepala.
Sebelum kelas dimulai ada satu anak yang memanggil nama ku, ia memintaku untuk ke ruang guru, aku sudah mengerti bahwa kejadian ini akan menjadi panjang. Sesampai nya disana, orang tua jagoan itu hanya mengecek kondisi badan ku sabil bertanya apakah aku mengalami bekas luka atau mempunyai memar selama dirundung oleh anak nya, ia meminta maaf dan memohon untuk tidak melaporkan kejadian ini ke orang tua ku, sebab sependengaranku kepala sekolah ku berkata bahwa aku anak seorang tentara. Ia terus memohon maaf dan memintaku juga untuk memaafkan anak nya, ia juga meminta agar anak nya tidak pukul lagi.
Dengan polos nya aku menjawab "Iya, tapi minta sepuluh ribu".