Mengenal : Perlawanan

Ada banyak kejadian yang tidak menguntungkan untukku di masa itu, dihari pertama aku membawa sepedahpun sepedahku langsung dibanting dan diinjak, sepulang nya aku dipaksa untuk mengantar pemimpin mereka untuk pulang kerumah nya yang mana jarak nya sangat jauh dan berlawanan dengan arah pulangku, dihari pertama pula aku memutuskan untuk tidak membawa sepedah lagi ke sekolah, sepulang nya aku harus menjelaskan banya hal ketika ayah ku bertanya kenapa sepedah ku yang baru dibeli dihari sabtu sudah banyak lecet dan stang nya bengkok, aku hanya bilang aku terjatuh berkali-kali.

Hal seperti ini terjadi selama lima tahun, sementara di usia itu aku juga belajar karate. Saat kenaikan kelas lima, mimpi terburuk ku terwujud dimana aku harus satu kelas dengan pemimpin perundung itu, sejujur nya pada saat itu sepulang sekolah aku meminta untuk pindah sekolah ke orang tua ku namun mereka tidak menghiraukan nya saat itu. Perundungan itu semakin parah dan parah, aku kerap menjadi bahan tertawaan sekelas karena dipermalukan, mulai dari baju ku yang dipaksa dibuka dan dilempar kesana-kemari, dihajar ramai-ramai tanpa sebab, dikunci dikamar mandi ketika aku izin untuk buang air kecil, disembur minuman berpewarna yang membuat baju putih ku kotor sampai aku harus dicubit ketika Ibu ku tahu.

Dan aku memutuskan untuk melawan.

Aku ingat betul kejadian itu, saat itu aku masuk siang. Uang saku ku raib seperti biasa nya namun ketika jam istirahat aku mencoba untuk mencari uang-uang koin yang terjatuh disela-sela selokan kantin, saat itu istirahat telah usai dan aku tengah melanjutkan pelajaran setelah nya. Guru ku memerintah sekertaris kelas untuk menulis dipapan tulis dan kami diminta untuk menulis nya di buku tulis kami, setelah beberapa waktu jagoan itu datang, aku sudah memahami intensi nya menghampiriku jadi aku berpura-pura sakit, dia terus memintaku untuk menulis di buku tulisnya sambil memukul-mukul kepala ku dengan penggaris, aku hanya menunduk, disaat itu aku ingat perkataan guru karate ku, ia berkata "meninju akan membuat tangan mu sakit tetapi orang yang menerima tinju mu seratus kali lebih sakit".

Aku menegakkan badan ku untuk duduk dengan tegak, aku berkata tidak, pukulan nya dengan penggaris di kepalaku semakin keras. Aku meninju hidung nya, dia tersungkur kebelakang lalu terjatuh, uang yang ada disaku baju ku yang ku kumpulkan dari selokanpun ikut berserakan, aku tidak berhenti sampai disitu, aku tetap meninju wajah nya secara beratur berulang-ulang kali sampai guru ku berteriak histeris dan teman sebangku ku berteriak "gigi nya copot". 

Aku berhenti, melihat dia berlumuran darah dari hidung dan dari mulut nya, dia tak sadarkan diri dan aku langsung memungut uang koin ku yang terjatuh, ada banyak darah saat itu dan berserakan dimana-mana sampai ke baju ku, guru ku merasa segan dan memanggil keamanan sekolah untuk membawa ku ke ruang guru sementara jagoan itu dilarikan ke klinik terdekat.

Aku ingat cara bagaimana pihak keamanan sekolah menarik belakang kerah baju ku untuk dibawa ke kamar mandi, aku diminta untuk membersihkan darah yang ada di tangan ku, tidak sepatah katapun keluar dari mulut nya. Sesampai nya diruang guru, aku duduk di pojok bangku sebelah kiri didepan kipas berwarna biru, aku melihat guru-guru berlarian ke arah kelas ku, petugas kebersihanpun membawa pel dan ember. Lalu kepala sekolah melihat kedalam ruangan ku hanya untuk menggelengkan kepala nya sambil menatap ku, entah apa yang ku fikirkan disaat itu aku hanya mengantuk lalu tertidur.