Mengenal : Menjadi Raja
Tanpa berfikir panjang ia mengeluarkan dompet dari tas nya lalu memberiku uang lima puluh ribu sambil memberi wejangan untuk jangan langsung dihabiskan, aku menerima nya sambil mengucap terimakasih. Aku berlari menuju kamar mandi, mengunci pintu nya, mengeluarkan uang itu dari saku ku dan memandangi nya lebih dari 3 menit.
Itu uang dengan jumlah terbesar yang aku pernah pegang saat itu, tangan ku gemetar bukan karena takut melainkan senang yang bukan main, ku simpan uang itu di kaus kaki ku lalu kembali ke kelas. Ketika bel istirahat berbunyi entah apa yang ada di otak ku, aku berteriak untuk mengikuti ku ke kantin dan aku akan mentraktir minuman untuk semua anak dikelas ini. Tanpa pengecualian untuk anak buah jagoan itu, semua orang mendapatkan mimuman es di plastik saat itu, uang ku tersisa delapan ribu dan ku habiskan untuk mentraktir jajanan lain untuk teman sebangku ku.
Sejak saat itu aku dijuluki sebagai "Bos", banyak teman seangkatan ku yang dipalak oleh kakak kelas dan mengadu kepadaku, aku dengan anak buah baru ku membela nya dan tidak ku sangka; yang dijuluki "pentolan sekolah" menangis ketika aku mencekik kerah baju nya, belum sempat kontak fisik dia sudah minta ampun.
Jagoan kelas ku tidak masuk sekitar tiga hari, dihari ia masuk dia tidak berkata sepatah katapun, terlihat dari raut wajah nya ia trauma akan kehadiranku dan ketakutan, aku tidak menegur nya bahkan menganggap nya tidak ada, sampai ketika teman-teman kelas ku menghina nya karena gigi nya ompong akibat peristiwa itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat itu, mungkin perasaanku berkata bahwa dia berhak untuk menerima semua nya.
Aku menjadi sangat diandalkan, aku ditunjuk untuk menjadi danton pramuka dan pemimpin perkemahan saat itu, hal itu membuatku menjadi pemimpin pramuka setiap hari senin tanpa di gilir, aku juga sering berpartisipasi dalam olimpiade tingkat kota, entah itu Bahasa Inggris, matematika ataupun komputer dengan tetap mempertahankan peringkat ku sebagai tiga besar disetiap kelas dan semester.
Saat itu juga, aku sering menemukan surat cinta didalam loker meja dan bahkan ditas ku, tak jarang Ibu ku sendiri yang menemukan dan membaca nya saat itu. Dari semua yang kubaca, aku hanya tertarik kepada seorang perempuan pendiam yang beraroma buah-buahan, dia cukup tinggi untuk seusia nya, dia selalu wangi bahkan sampai pulang sekolah, kebetulan rumah kami searah jadi aku dan temanku sebangku ku Rio selalu menunggu nya untuk keluar gerbang agar bisa jalan bersama kelompok nya.