Mengenal : Kota Baru

Pada dasar nya laki-laki tumbuh dari rasa sakit, dari penghinaan, pemukulan ataupun ketidak berhargaan. 

Aku telah menyaksikan berbagai jenis kekerasan sejak aku belum menduduki bangku sekolah, yang dimulai dari adu mulut lalu pemukulan lalu pengerusakan. Hal itu tumbuh didalam diriku yang awal nya ku fikir adalah hal yang normal dialami oleh anak laki-laki, tetapi semakin lama aku tumbuh aku menjadi sadar bahwa hal itu membentuk kepribadianku yang sekarang.

Menjadi anak pertama sungguh mudah tetapi begitu sakit untuk dijalani, ada dua opsi; menjadi contoh yang baik atau menjadi kegagalan untuk dijadikan contoh. Aku tahu dimana tempatku berada, maka dari itu aku memutuskan untuk berhenti mencoba dan berbuat semauku sampai kehancuranku menjadi sebuah pelajaran untuk tidak dilakukan oleh adikku.

Bisa diakui aku awal nya adalah anak yang cukup cemerlang dan mandiri, dimulai dari taman kanak-kanak dimana anak seusia ku diantar oleh orang tua nya ataupun dijemput memakai mobil, tidak denganku; aku berjalan sendiri sampai gerbang perumahan lalu naik becak sampai sekolah, terkadang nenek ku mengantar tetapi pada akhir nya aku pulang sendiri, begitu memasuki sekolah dasar, aku berjalan kaki dari rumah sampai sekolah karena jarak nya tidak begitu jauh juga.

Aku cukup mandiri dan bisa diandalkan, diumur sedini itu akupun sudah bisa menyalakan kompor dan memasak sesuatu untuk dimakan bersama dengan adikku, kedua orang tua ku harus bekerja untuk menghidupi kami berdua, setidak nya untuk menyediakan kami tempat tidur yang nyaman. 

Di sekolah, sebelum sampai kelas lima aku cukup sulit untuk berbaur dengan lingkungan sekitar, aku cukup canggung untuk mengenal lingkungan baru dan itu menyebabkan diriku mengalami perundungan, saat itu aku cukup takut untuk masuk sekolah tetapi aku lebih takut dengan amukan orang tua ku jika mereka tahu aku bolos sekolah, jadi kuhadapi sebisaku. Awal nya mereka cuman menghinaku dan menyuruhku mengerjakan tugas mereka, entah itu menulis atau berhitung, sebab nilai ku cukup tinggi dan selalu mendapat peringkat. 

Dari yang awal nya perundungan dikelas sampai akhir nya melibatkan kakak kelas, sejak saat itu aku tidak pernah bisa merasakan betapa lezat nya jajanan sekolah, apalagi mie sakura yang dihidangkan didalam gelas. Pagi hari sebelum masuk kelas mereka menungguku untuk mengambil uang saku ku, tidak menyisakan nya sepeserpun bahkan untuk membeli air minum. Ada beberapa kali ku ingat ketika aku sangat haus aku terpaksa meminum air dari keran kamar mandi karena aku tidak punya uang sepeserpun.

Hal itu terjadi setiap hari sampai akhir nya aku memiliki ide, cara agar tetap bisa makan dan minum di sekolah. Aku membawa bekal dan air minum dari rumah, disediakan di dalam kotak oleh Ibu ku sebelum ia berangkat kerja. Pada hari pertama rencana itu sukses dan aku bisa makan disekolah, meskipun teman sekelasku melihat nya sebagai sesuatu yang aneh dan hal itu membuatku semakin dirundung. Pada hari kedua di rencana yang sama, mereka tidak hanya mengambil uang sakuku tetapi bekal ku juga, setidak nya aku masih punya air untuk diminum. Selesai mereka mengahiskan bekalku, mereka tidak pernah mengembalikan kotak makan nya, itu tidak hanya membuatku lapar tetapi takut juga untuk pulang kerumah.