Nubuat : Hujan

Terlahir dalam janin yang hina
Amarah batin yang tiada bertepi, tak terhenti
Tersirami rembulan, sang penjaga pusara sunyi
Penjaga para mendiang, maharani ajalku

Teranyut di pesisir jasad yang tertimbun
Merangkak ke gerbang menuju bawana kegelapan purba
Serigala dan naga saling bergelut tanpa pudar
Menghimpun balai tua dengan darah; neraka akan memungut hasilnya.

Meringkiklah, ya dewaku, dalam ketakutan terlipat
Bencana musim hujan pastilah menjelang tak tertampik
Penyangkalan menggaung, di bilik-bilik sanubari
Lontarkan titah pemidanaanmu tanpa ragu

Pecahan tersentak, tersorong di bawah genangan darah
Napas tercekat, mendekap dan terhenti di udara beku
Pelabuhan bencana sampar
Masih tersembunyi di balik kabut
Para raja bersujud pilu di hadapanmu
Wahai gerombolan bangkai kelaparan
Panggillah musim hujan mu
Dan biarkanlah tulisan ini berakhir

Terbangun dalam realitas yang menggemparkan
Jasadku melepuh, kesadaranku terenyahkan tanpa sisa
Seorang panglima bagi memimpin
Bagi khalayak kematian yang membusuk
Kehendak mu terlaksana
Pada hakikat mu aku berlindung
Wahai maharaniku

Berbiak dan tumbuh tanpa hentian
Balatentara perenggut kesucian telah berpijak
Saat akhir zaman menimpa
Amarah kita kan menjelajahi jembatan pungkasan
Fajar kepedihan telah terbit dalam nista yang kelam

Terkutuk dalam kehidupan abadi
Di tengah hujan darah yang anyir
Oh, matriark yang terberkati, patron peluruhan
Hadirkanlah rintik bakterimu
Kami berkumpul bersekutu
Untuk menyaksikan kesudahan segala masa
Dilahirkan oleh derita penipuan
Dalam fatamorgana dusta yang merajuk

Dengan ramalan yang tersirat
Aku akan merobek cakrawala hingga menganga
Belah kerak bumantara
Dengan permusuhan yang telah kami tanam
Saksikanlah kehancuran yang ilahi
Paradigma yang tak tersentuh
Sebuah testimoni bagi kemerosotan
Yang membusuk hingga ke intisari

​Aku kan menyambutmu pulang ke peraduan akhir
Wajah pucat sang maut yang menggenggam jiwa