Samsa
Samsa, adalah sebuah metafora dari norma utopia, adalag sebuah kesenjangan fiksi yang berlatar realita kehidupan sosial.
Sebab, tulus nya yang berbekal asa perlahan dibalas dengan tuba. Menciptakan ketakutan terbesar manusia akan keterasingan individu sekaligus menunjukan realita hakekat manusia.
Sejati nya, prerogatif manusia adalah parasitisme yang berkamuflase menjadi getaran dan gejolak batin, norma yang membelenggu menciptakan limitasi tertentu terhadap bentuk ataupun rupa individu.
Tidakkah penting bagi sekitar nya dikala ia harus mencapai target penjualan? Sebab birahi nya hanya sebatas roti dan apel.
Kepedihan yang sangat mendalam adalah sakit yang dibungkam, saat erangan itu bermakna nihil, disaat kaki yang memar dan patah tidak dapat dimengerti, juga punggung yang keras itu.
Menguji seberapa munafik nya manusia dikala dihadapkan oleh simpati dan empati, kedua hal itu adalah subjek yang beroposisi dengan prestise.
Manusia diuji oleh rasa syukur dan wibawa, sebab Samsa "budi" nya hanya terbalas sajian normal yang tidak sedap, meskipun itu hal yang wajar tetapi pada akhir nya ia dicampakan sebagai aib besar dan bercumbu dengan sampah.
Semua air mata dan kesedihan tidak akan berarti lagi dikala wibawa sudah menyelimuti.