Sebuah Memoar Untuk Ular Berkepala Dua

Namun sejak itu pergi, seolah hujan datang menghampiri mu. Bukan nya berteduh kamu malah mencari ruang terbuka, untuk terlihat basah untuk terlihat menyedihkan, hujan itu air mata ku, menggenangi skenario manipulasi mu, agar telihat berkabung dan menyesal kamu menebar semua kutipan kesedihan, kamu mengunci dirimu sendiri bukan untuk meratapi kesalahan mu, tetapi untuk melanjutkan bahagia di dalam diam atas semua luka yang telah kamu ludahi. 

Tidak bisa, narsistik itu melekat dan mendorong kehausan mu akan validasi sebab kamu selalu merasa lebih baik dan lebih cantik dari siapapun bahkan untuk mempertahankan posisi mu saja kamu rela menjadi kanibal untuk memakan teman tidurmu sendiri, kamu ingin selalu dipandang sebagai kemewahan, supaya terlihat keren dan kekinian di kota asing sebab dimana tempat mu berasal hal itu adalah sebuah kemewahan, tetapi disini merupakan sebuah aib dan borok yang tak patut disebar luaskan.

Dalam sebuah peristiwa tertentu, kamu bertekuk lutut untuk meminta maaf dan berjanji di depan teman-teman mu, seolah itu menjadi peristiwa yang sakral. Nampak nya kesucianpun enggan terlihat dari sisi manapun, bahkan kamu hanya menanggap keberadaan pencipta mu hanya ketika ekspektasi mu diluar dugaan dan rencana mu tidak terselesaikan, selebih nya keputusan itu dipengaruhi oleh nafsu, validasi, tingkat kebencian dan amarah.

Kenyataan nya tidak seperti yang kamu kira, dengan memperlihatkan pengkhianatan mu banyak orang sudah bisa menebak harga mu, kamu bilang malu akan kesalahan mu dan enggan untuk menunjukan wajah dan keberadaan mu, tetapi yang kamu pamerkan setelah nya adalah bentuk penuh dirimu mu dengan lekukan badan yang selalu kamu banggakan, sungguh sebuah paradoks yang ironis.

Dalam catatan ini, aku ingin membersihkan nama ku sendiri sebagaimana kamu memamerkan betapa mudah nya diriku untuk dibohongi atas dasar cinta. Akan menembus tajam kedalam ego mu yang tak pernah di didik untuk berfikir bahwa kamu tidak bisa dengan mudah mendapatkan apa yang kamu inginkan dengan cara menumpahkan darah lalu cuci tangan. Biar ini menjadi bukti bahwa sesekali aku bisa menjadi runcing dengan gelap yang ku simpan.

Kejiwaan ku memang terganggu, kemarin aku berfikir bahwa aku sedang merawat berlian yang indah namun kebanyakan orang bilang bahwa aku sedang memungut sampah yang sama. Syukur pada saat ini kamu berada pada tempat yang layak, dengan orang yang selalu membanggakan dirimu tanpa tahu dirimu yang sebenar nya, teruslah buat skenario agar dirimu tetap mendapat validasi oleh orang yang buta akan kebenaran dan kemunafikan.

Entah bagaimana cara mu menghancurkan diriku dari dalam, akupun tidak bisa membedakan mana fakta dan kebohongan yang tercipta dari mulut mu yang berbisa dan gerakan mu yang licin seolah-olah selalu dilumasi lendir oleh rekan mu yang berfikir bahwa alasan bodoh nya dapat mengelabui ku. Pada dasar nya juga, kamu selalu menginginkan drama agar bisa jadi pusat perhatian semua orang, sekarang ku buatkan panggung pentas untuk dirimu.

Kamu memang bisa menekuk balik perasaan orang menggunakan wajah dan badan mu, seolah kamu adalah sutradara dari segala kisah cinta. Tetapi tulisan ku akan berkesan dan membekas, bahkan aku harap membusuk didalam jiwa mu yang selalu kamu anggap tinggi melebihi siapapun. Biar kali ini aku yang menilai dan menghakimi, juga melabeli dirimu dengan harga yang pantas, sebagaimana kamu merasa seperti seseorang yang mempunyai kuasa lebih.

Sekarang adalah waktu yang tepat untuk merasa takut dan gemetar, sebagaimana sekujur tubuh ku selalu bergetar ketika mendengar kebenaran yang kamu tutupi.

Terimakasih telah mengajarkan ku batas kejahatan manusia yang tidak pernah ku bayangkan seolah aku kuat untuk menahan nya, kini aku tidak memiliki batas untuk melakukan apapun, aku belajar menjadi dirimu yang kanibal dan selalu berkhianat, bahkan kepada orang yang kamu panggil sebagai kakak. Besok nya, aku akan memakai topeng malaikat dan akan tetap berkata manis kepada mereka, sejati nya aku tahu jiwa mu telah dinodai akan kebencian tanpa alasan yang pasti.