Cogito Ergo Sum
Dalam kehidupan sehari-hari atau bahkan selama peradaban manusia, kita seringkali merasa bahwa kebenaran adalah sesuatu yang mutlak: pondasi yang tidak dapat di goyahkan oleh waktu atau pendapat. Namun, apakah kebenaran itu benar-benar benar?
Pertanyaan tersebut meskpun sederhana sejati nya dapat mengguncangkan akar pemahaman kita tentang realitas, nilai dan pengetahuan. Ketika kita membicarakan tentang dunia pada dasar nya kita sedang membicarakan manusia, manusia tidak akan pernah lepas dari pembicaraan mengenai dunia, dikarenakan cuma kita spesies yang melayang diatas batu raksasa ini yang bernama Bumi yang sedang memproyeksikan kenyataan tentang dunia, setidak nya sejauh yang kita tahu kita seakan-akan bagian alam semesta yang sadar akan dirinya sendiri, kalau dibalik prinsip nya, hanya satu hal yang pasti dari realitas ini dan tidak lagi bisa diragukan keberadaan nya.
Menurut Rene Descartes seorang filsuf, Res Cogitas yang berarti kita, aku dan kamu sedang meragukan dan dengan meragukan kita sedang memikirkan. Cogito ergo sum yang berarti kalau cuma kita yang bisa merasakan realitas atau kalau cuma kita yang tidak bisa dibantah realitas nya, semua kebenaran yang menyentuh realitas, semua kebenaran-kebenaran di dunia, semua ideologi tangguh, teori-teori saintifik, sampai gemuruh dewa-dewa adalah kebenaran palsu, karena itu semua hanyalah kenyataan yang kita buat-buat, kenyataan yang paling asli dan paling dekat dengan kita yang selama ribuan tahun dipercayai oleh hampir semua orang ternyata palsu, dan kita semua adalah seniman nya.
Barangkali kita mengira ini adalah zaman baru, konon katanya era ini dibuka oleh para filsuf pencerahan yang seharus nya mencerahkan kita dengan mencarikan kita kebenaran, namun justru mereka memilih menyerah dengan hal itu dan mulai mengakui kehampaan atau teori pencerahan menurut Immanuel Kant yang berisi kehidupan yang fana tanpa kebenaran absolut. Para filsuf modern ini menjelaskan bahwa kebenaran absolut mungkin tidak ada, semua percobaan memahami dunia terus-menerus memberikan skeptisisme dan relativisme dan keterbatasan yang ditegaskan oleh Kant dengan menjelaskan bahwa satu-satu nya yang bisa kita capai sebagai manusia hanyalah fenomena yaitu segala yang bisa dipersepsikan manusia, dan noumena realitas itu sendiri tidak akan pernah benar-benar bisa digapai oleh kita sebagai manusia.
Namun, siapa sangka ternyata ide-ide mengenai ketidakmampuan kita sebagai manusia untuk mencapai kebenaran yang benar ternyata sudah diprediksi oleh seseorang yang bahkan kita tidak tahu nama nya, mungkin saja seseorang yang misterius itu tinggal di India, mungkin 3000 tahun yang lalu atau 6000 tahun yang lalu, atau mungkin bisa lama dari dugaan-dugaan itu. Ide nya dikenal dengan doktrin shadvada atau the doctrine of maybe.
Double Slit Experiment (Thomas Young)
d sin(θ) = mλ
d = jarak diantara dua celah
θ = sudut dimana pola interfensi diamati
m = orde pinggiran (bilangan bulat: 0, 1, -1, 2, -2, dst.)
λ = adalah panjang gelombang cahaya
Sebuah partikel kecil, seperti elektron atau foton, jika dilewatkan melalui dua celah sempit, hasil nya sangat bergantung apakah partikel itu sedang diamati atau tidak-ketika diamati seperti gelombang, ketika tidak diamati dia seperti partikel
Dengan itu, perilaku partikel sub-atom terlihat dipengaruhi oleh pengalaman kita (manusia), jadi dunia itu sendiri berubah saat kita mengamati nya atau mungkin sebenarnya tidak pernah berubah, hanya saja kita luput terhadap nya. Tetapi eksperimen ini memberikan pemahaman bukti empiris ketidakpastian dan nanti nya postmodernisme yang menjelaskan bahwa realitas yang kita tinggali-kebenaran absolut yang kita dapat temukan sebenar nya hanyalah konstruksi sosial yang disesuaikan dengan konteks, kekuasaan dan bahasa. Yang membuat realitas yang kita tinggali tidaklah memiliki narasi besar di dunia ini.
Jadi nya, realitas bukanlah sesuatu yang tetap dan universal, tapi yang selalu ditafsirkan kembali melalui pengalaman dan juga budaya. Perlu barangkali 6000 tahun untuk menyadari semua itu, sementara orang misterius yang tadi yang mungkin saja datang dari India telah sampai ke kesimpulan tersebut jauh sebelum kita. Kata nya Historia Magistra Vistae sejarag adalah guru bagi kehidupan, tetapi kita diperdaya oleh rayuan ilmu godaan seorang bijak yang mengatakan bahwa kita harus terus tanpa henti belajar. Padahal, tidakkah ada guna nya jika segala yang umat manusia pelajari justru sampai pada kesimpulan yang telah dibuat 6000 tahun yang lalu. Dongeng ini adalah sebuah kisak klasik tentang kebenaran, tentang apa yang sesungguhnya yang kita cari ternyata tidak pernah ada bersama kita.