Juni
Juni, tahun ini semua sudah terasa berbeda, banyak halaman yang telah tertutup dan di gantikan oleh lembaran lembaran baru yang menunggu untuk di tulis oleh hal hal segar, memang semua sudah terlewat namun masih tetap menjadi belenggu yang menakutkan, sekali lagi semua itu masih menjadi sisi gelap yang tak mungkin tersentuh oleh cahaya.
Menyambut Juni, tanpa kehadiran dirimu kini setiap hari terasa begitu lambat. Semua terasa sangat membosankan dan sangat amat berat, saat ini aku tak tahu cara mengembalikan ombak yang menyapu bibir pantai dengan lembut, atau menciptakan angin segar di sore hari.
Satu, dua dan mungkin terhitung tiga namun semua tak serupa dan sama, tak sehangat senyum mu dan tak seindah diam mu.
Menyambut Juni, sepuluh hari setelah tanggal satu mungkin aku akan berkabung dalam kenang, kembali menghitung daun yang gugur bersama air mata, duduk bersandar di pohon sambil membuka lembaran lembaran pahit yang kala itu menjatuhkan ku dan membuat ku tak berdaya, saat seluruh jiwa dan raga ku terpasung oleh kesedihan yang menyekik separuh nafas ku.
Sayang sekali semua harus di sudahi dengan kebingungan yang menyesatkan logika, warna yang menggambarkan tentang harapan yang kembali mereka telah pudar menjadi kelabu dan hilang perlahan bersama waktu. Kita bermain dalam diam dan kesunyian, kembali sibuk menyusun mesin waktu dan berubah menjadi tidak perduli, dan aku tak tahu sedang apa dan dimana dirimu berada, aku rindu.
Aku harus keluar dari kamar ku, aku tidak ingin mengganggu tidur seisi rumah untuk yang ketiga kali nya, mereka tahu bahwa aku menyelam terlalu dalam lalu tenggelam dan tidak bisa di temukan. Aku lepas kendali dan tak ada yang mampu meredam ku, tak ada seorangpun yang dapat menyentuh bagian terdalam dari diriku dan berkata bahwa semua akan baik baik saja.
Jika cinta adalah wujud dari seseorang maka aku akan mengenali nya lewat senyuman yang akan menjadi mimpi indah di setiap tidur, dari cara diri nya membuka pintu dan mengucapkan selamat pagi, dan menatap mata ku dengan penuh perhatian, aku akan mengenal cinta lewat lagu yang ia nyanyikan setiap malam, juga dari cara nya memanggil nama ku, meskipun aku tahu bahwa diri nya jarang sekali memanggil nama ku, aku akan mengenal nya lewat rasa es krim favorit nya, aku akan mengenal cinta dengan baik.
Aku tahu cinta, aku akan berlari pada siang hari dengan rasa haus menuju mati, aku akan berjalan panjang di lintasan yang berliku tajam dan menyesatkan, hanya untuk mendengar tawa nya yang menjadi candu.
Dia akan menegaskan ku dengan cara nya, bukan dari kelembutan atau kekerasan tapi dari cara yang di buat nya sendiri. Dia akan membutikan bahwa aku salah dan membuat ku berfikir mana yang benar. Dia akan membuatku berkaca dan bertanya kepada diriku sendiri, dan dia akan berubah saat aku perlahan menghilang bersama egoisme diriku.
Lalu siapkah untuk menabur garam ke luka yang masih segar jika berfikir bahwa pohon yang telah di tebang akan tumbuh kembali menjadi besar dan teduh, aku telah menanam pohon dan menunggu nya sampai besar, hingga akhir nya ku sadar bahwa pohon itu tak berbuah dan aku menebang nya, sampai hari ini aku terpanggang sinar matahari yang menusuk hingga ke tulang, tak ada lagi pemandangan hijau hanyalah gersang sejauh mata memandang.
Tak ada yang bilang bahwa semua ini akan terasa mudah, dan tak ada yang bilang bahwa semua ini akan berlangsung sederhana. Hanya masalah hidup yang bertabrakan dengan udara yang membawa pesan dari burung yang telah pulang dari perjalanan panjang nya.
Juni, mungkin aku telah berubah hari ini dan jangan mengemis tawa atau senyum ku kembali, sehingga aku harus memaksakan diriku untuk bahagia di dalam kabut yang membutakan pandangan. Terlepas dari memori yang telah terukir abadi, biarkan waktu bermain dan membentuk kembali cinta yang hilang.