Diaspora
Empat kaum mendominasi nusantara, 2 Tuhan dan banyak Dewa saling merangkul dan tertawa bersama di surga, surga ini surga nyata manusia, yang masih bisa di pandang oleh mata telanjang dan masih di bisa di rasa dengan cuma cuma.
Waktu yang bermain dengan egoisme penduduk, menciptakan koloni dan memecah nya menjadi 4 keping, para Tuhan dan Dewa mulai sibuk dengan dunia nya sendiri.
Perlahan stereotipe budaya semakin menghilang, pudar bersama kesadaran akan dosa dan terganti oleh ajaran ajaran baru yang memakan pribumi, menghujat yang salah karena merasa benar, jika di tanya apa yang salah dari budaya, mereka menjawab "Tuhan ku bertolak belakang dengan semua ini"
Supremasi memecah hukum berkeping keping, toleransi membusuk dan mengarat bersama individualisme lalu setan yang mengamati dari bawah tanah seketika tertawa terbahak bahak.
Negeri ini di penuhi oleh orang orang yang sempurna, tutur nya tak terbantahkan karena berdasar kepada keTuhanan, reproduksi suci yang menciptakan bibit baru telah menelan doktrin mayoritas yang di mahkotai prioritas abadi, namun salah nya minoritas menuntut hak yang sama, karna tak sedikitpun ada yang salah dari ajaran nya, ya semua nya merasa sempurna.
Hidup berkoloni terimplementasikan sebagai ajaran dasar, karna bukan saudara bila tak sepaham.
Logika di matikan oleh hal hal yang abstrak, sosialisme di cemarkan oleh agama, satu sudut pandang ajaran yang dangkal menodai sistem pertemanan yang tulus, membatasi reproduksi dan memfasilitasi penilaian untuk subkultur, mereka di selimuti oleh gelisah yang berkepanjangan, diam dan tersungkur menunggu mati.
Berlomba untuk mensodomi kaum politik yang terjangkit impotensi, memberi harapan akan tangga surga dan ancaman akan siska neraka, menyekat diafragma demokrasi hingga asma mendobrak paksa pintu kesatuan.
Jilat dan hisap penuh nafsu kitab dan utusan Tuhan, egoisme dan dahaga akan pahala yang membabi buta mewarnai perjalanan suci, satu kemuliaan tersebar luas, satu kebodohan tertutup rapat.
Tuhan berbicara kepada ku, kata nya lelah akan kebodohan yang berteriak, kerap kali manusia yang bodoh nya natural di sajikan sebagai calon pemimpin umat dan semakin kotor berubah keruh.
Satu seruan kebaikan, di sambut layak nya utusan Tuhan, satu kesalah di muka publik di buru dan di halalkan darah nya, mereka mencaci dan menghujat, seolah olah bagai pembunuh yang darah nya suci.
Biarkan logika dan akal sehat manusia sebagai makhluk sosial membangun negeri ini, urusi pahala mu sendiri, dan urusi selangkangan mu sendiri.